NUSA TENGGARA BARAT — PT PLN (Persero) tengah menyiapkan infrastruktur strategis untuk mengalihkan kebutuhan listrik PT Indorama Synthetics Tbk dan PT Indorama Polychem Indonesia Tbk dari pembangkit batu bara ke sistem kelistrikan hijau PLN. Proyek ini dikerjakan oleh Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah (UIP JBT) dan menjadi tonggak baru dalam upaya menekan emisi karbon di sektor industri.
Melalui proyek ini, PLN membangun Gardu Induk (GI) 150 kV Konsumen Tegangan Tinggi (KTT) Indorama beserta Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Indorama Incomer yang membentang dengan dukungan tujuh tower transmisi baru. Infrastruktur ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan daya dua pabrik tekstil raksasa tersebut di kawasan Purwakarta.
Dua PLTU Berkapasitas 62 MW Disetop Total
Saat ini, kedua entitas Indorama masih mengandalkan pembangkit listrik milik sendiri atau captive power plant berbasis batu bara. PT Indorama Synthetics Tbk mengoperasikan PLTU berkapasitas 1 x 32 megawatt (MW), sementara PT Indorama Polychem Indonesia Tbk memiliki PLTU 1 x 30 MW. Jika ditotal, kapasitasnya mencapai 62 MW.
Setelah pasokan dari PLN tersambung penuh dan dinyatakan beroperasi komersial, kedua PLTU tersebut akan resmi dihentikan operasinya. Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tetapi juga menghapus emisi langsung dari proses produksi listrik di lingkungan pabrik.
Mengapa Peralihan Ini Krusial bagi Industri?
Keputusan ini merupakan bagian dari tren global di mana perusahaan manufaktur berorientasi ekspor mulai menuntut kepastian sumber energi terbarukan. Dengan beralih ke jaringan PLN, Indorama dapat mengklaim penurunan emisi scope 2—emisi tidak langsung dari pembelian energi—yang menjadi syarat utama dalam rantai pasok internasional.
Bagi PLN, proyek ini sekaligus memperkuat sistem kelistrikan Jawa Bagian Tengah. Kehadiran GI 150 kV KTT Indorama tidak hanya melayani kebutuhan dua pabrik tersebut, tetapi juga meningkatkan keandalan pasokan listrik di kawasan industri Purwakarta dan sekitarnya.
Target Operasi dan Dampak ke Pasokan Listrik
PLN menargetkan seluruh infrastruktur kelistrikan ini mulai beroperasi pada awal 2027. Setelah resmi beroperasi, kebutuhan listrik kedua perusahaan akan sepenuhnya dipasok melalui sistem kelistrikan PLN, menggantikan peran PLTU internal yang selama ini beroperasi.
Proyek ini juga menjadi preseden bagi kawasan industri lain yang masih mengandalkan pembangkit listrik kotor. Dengan skema yang sama, PLN membuka peluang bagi industri padat energi untuk bertransisi ke listrik yang lebih bersih tanpa harus mengganggu kontinuitas produksi.
Langkah PLN dan Indorama ini sejalan dengan target pemerintah mencapai net zero emission pada 2060, sekaligus memperkuat daya saing produk tekstil Indonesia di pasar global yang semakin ketat dalam mensyaratkan jejak karbon rendah.