NUSA TENGGARA BARAT — Panel surya itu dipasang di kapal milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) yang dioperasikan di perairan Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Proyek ini diresmikan langsung oleh Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, pada Kamis (11/6/2026).
Kapal Bisa Beroperasi 6 Jam Tanpa Diesel
Sistem yang dipasang bukan sekadar panel surya biasa. Pertamina mengintegrasikannya dengan baterai berkapasitas 32 kWh, sehingga energi yang dihasilkan bisa disimpan dan digunakan saat dibutuhkan.
Direktur Utama PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, menjelaskan PLTS off-grid berkapasitas 11,5 kWp ini mampu mensubstitusi kebutuhan energi kapal hingga enam jam operasional. "Dengan implementasi ini, konsumsi bahan bakar dapat ditekan secara signifikan," ujar John.
Menurut perhitungan perusahaan, pemasangan panel surya ini menghemat konsumsi diesel hingga 28.080 liter per tahun. Angka itu setara dengan pengurangan emisi karbon 79,2 ton CO? setiap tahunnya.
Sinergi Antar Entitas Pertamina
Proyek ini melibatkan tiga entitas di bawah holding Pertamina. PNRE bertindak sebagai pengembang solusi energi terbarukan, PTK sebagai operator armada, dan PIS sebagai induk usaha yang mendukung pendanaan dan strategi.
Agung Wicaksono menegaskan kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi bisa lahir dari sinergi internal BUMN. "Pemanfaatan energi surya yang dipadukan dengan baterai menunjukkan bahwa dedieselisasi tidak hanya dapat dilakukan di darat, tetapi juga di laut," kata Agung.
Direktur Perencanaan Bisnis PIS, Eka Suhendra, menambahkan proyek ini menjadi tonggak penting dekarbonisasi sektor maritim Pertamina. Menurutnya, selain panel surya, perseroan juga tengah menerapkan berbagai perangkat penghemat energi di armada kapal lainnya.
Target Net Zero Emission 2060
Langkah ini merupakan bagian dari peta jalan Pertamina menuju target Net Zero Emission 2060. Agung menyebut perusahaan berkomitmen menekan emisi di seluruh lini bisnis, tidak terkecuali armada distribusi energi yang selama ini masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Keberhasilan pemasangan PLTS di kapal OB Patra 2303 membuka peluang replikasi ke armada kapal lainnya. Jika diterapkan secara massal, potensi penghematan bahan bakar dan pengurangan emisi bisa jauh lebih besar, sekaligus memperkuat agenda dekarbonisasi nasional di sektor transportasi laut.