NUSA TENGGARA BARAT — Whalefall tayang di bioskop Indonesia dengan premis brutal: Jay terjebak hidup-hidup di perut paus sperma. Austin Abrams tampil nyaris sendirian sepanjang film, didukung Josh Brolin sebagai ayahnya. Sayangnya, fondasi teknis yang apik tidak diimbangi eksekusi cerita yang kaku.
Whalefall mengadaptasi novel laris karya Daniel Kraus, dengan Brian Duffield duduk di kursi sutradara sekaligus penulis naskah bersama Kraus. Premisnya sederhana tapi mengerikan: seorang penyelam muda harus bertahan hidup di dalam perut mamalia laut terbesar.
Kartu as film ini jelas ada di sisi teknis. Sinematografi, tata suara, dan komposisi musik bekerja ekstra keras membangun atmosfer dasar samudra. Desain produksi set interior perut paus dibangun dari nol untuk menghadirkan lanskap anatomi yang meyakinkan.
Austin Abrams kembali membuktikan kapasitasnya sebagai scream king setelah aksinya di Resident Evil. Ia nyaris sendirian mengisi layar, berinteraksi dengan set interior perut paus yang sempit dan berlendir.
Meski mulutnya tersumbat regulator selam hingga tak bisa bicara jelas, Abrams sanggup menyampaikan spektrum emosi lewat tatapan mata dan erangan. Totalitasnya jadi tulang punggung film ini.
Sinematografer Aaron Morton sempat membelokkan Whalefall menjadi tontonan body horror yang bikin ngilu. Beberapa bagian berhasil membuat penonton menahan napas.
Fondasi visual yang memanjakan mata itu hancur ditimpa pemetaan anatomi yang berantakan. Penonton kerap bingung memahami posisi spesifik Jay di dalam organ tubuh sang paus.
Jay terlihat bergulat konyol melawan cumi-cumi dan menghindari gas metana di saluran pencernaan. Alih-alih mengeksplorasi ketakutan terhadap kegelapan lautan lepas yang sempat terekam epik di awal, Duffield justru mendaur ulang siksaan ruang sempit yang lama-kelamaan menjemukan.
Karakter Jay terasa hanya terlempar dari satu ruang berlendir ke ruang lainnya, dijahit secara paksa tanpa pemikiran matang untuk menjaga keterikatan penonton.
Durasi yang ada dipakai habis-habisan untuk menguliti trauma keluarga. Josh Brolin berhasil merangsek masuk menyeret ego sebagai bapak berwatak keras.
Ambisi toksik seorang ayah yang memaksa anak laki-lakinya tumbuh tangguh dieksekusi dengan hidup melalui interaksi Brolin dan Abrams, setelah keduanya sama-sama membintangi Weapons. Patahan emosi dan matinya urat komunikasi bapak-anak ini ironisnya memukul mental penonton jauh lebih telak ketimbang horor terkurung di lambung binatang laut.
Kegilaan emosional drama keluarga itu meledak di babak ketiga. Menipisnya pasokan oksigen membuat simbolisme sang paus melebur liar dengan halusinasi Jay.
Buat sebagian orang, visualisasi seperti itu mungkin terasa berlebihan. Bagi yang lain, rasa kepalang tanggung hampir ending membuat situasi tersebut sebagai pelengkap kekacauan bagi sang karakter utama.
Whalefall bukan tontonan yang sepenuhnya mengecewakan. Film ini masih bisa menghibur lewat sisipan humor saat Jay berjuang bertahan hidup dan coba keluar dari perut paus.
Bagi penikmat survival thriller yang sekadar ingin menyaksikan perjuangan brutal keluar dari tubuh paus, film ini menyajikan deretan adegan menjijikkan yang seru dinikmati di layar lebar. Terlebih jika disaksikan dalam format 4DX dengan keseluruhan sistemnya beroperasi sempurna.
Whalefall menambah daftar adaptasi novel laris yang bergantung pada kekuatan visual dan akting, tapi belum sepenuhnya percaya diri meracik ketegangan cerita secara konsisten.