DENPASAR — Penghargaan ENSIA 2026 yang diterima Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melibatkan kontribusi dari banyak unit operasi di wilayah kerjanya. Unit-unit itu meliputi Fuel Terminal Maumere, Fuel Terminal Tuban, Fuel Terminal Sanggaran, Fuel Terminal Madiun, Fuel Terminal Malang, Integrated Terminal Surabaya, Integrated Terminal Tenau, Integrated Terminal Tanjung Wangi, Integrated Terminal Ampenan, Integrated Terminal Bima, Aviation Fuel Terminal Lombok (BIL), Aviation Fuel Terminal Juanda, Aviation Fuel Terminal Ngurah Rai, serta Bitumen Plant Gresik.
Menurut perusahaan, inovasi yang dikembangkan unit-unit tersebut tidak berhenti pada kepentingan bisnis. Program yang dijalankan juga menyasar perbaikan lingkungan dan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
ENSIA adalah ajang apresiasi inovasi dunia usaha di bidang pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Pada penyelenggaraan keenam tahun 2026, ajang ini mengangkat tema "Innovation for Sustainable Business and Resilient Community".
Tema tersebut mendorong lahirnya inovasi yang memperkuat daya saing bisnis sekaligus membangun ketahanan sosial dan lingkungan.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh. Jumhur Hidayat menekankan peran dunia usaha yang mesti melampaui pemenuhan aturan lingkungan.
"ENSIA 2026 merupakan salah satu bentuk praktik beyond compliance, yaitu upaya dunia usaha untuk tidak berhenti pada pemenuhan regulasi lingkungan. Tahap berikutnya perlu diarahkan pada restorative activity, yaitu tindakan nyata untuk memulihkan lingkungan yang telah mengalami kerusakan," ujar Moh. Jumhur Hidayat.
Ia juga menyoroti tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, pemerintah, korporasi, dan individu punya andil masing-masing.
"Gerakan Tobat Ekologis bukan hanya ditujukan kepada perusahaan, tetapi merupakan tanggung jawab kita semua. Pemerintah, korporasi, maupun individu memiliki peran dalam memperbaiki perilaku terhadap lingkungan," lanjutnya.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyebut capaian 69 penghargaan lahir dari konsistensi dan kolaborasi seluruh insan Pertamina.
"Penghargaan ini bukan sekadar angka, tetapi merupakan representasi dari kerja keras dan semangat seluruh insan Pertamina dalam menghadirkan perubahan. Setiap inovasi lahir dari kepedulian, baik terhadap lingkungan maupun masyarakat. Kami bangga karena inovasi yang dilakukan di berbagai unit operasi dapat memberikan manfaat sekaligus mendapatkan apresiasi di tingkat nasional," ujar Ahad.
Ia menambahkan, keberlanjutan dipandang sebagai perjalanan panjang, bukan tujuan akhir. Penghargaan ini, katanya, menjadi dorongan untuk terus berinovasi dan berkolaborasi.
"Kami percaya bahwa keberlanjutan bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan perjalanan yang harus terus dilakukan. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi, berkolaborasi, dan memastikan setiap langkah operasional Pertamina memberikan nilai tambah bagi masyarakat, lingkungan, dan keberlanjutan di masa depan," tambah Ahad.
Sejumlah kategori inovasi dipertandingkan dalam ENSIA 2026. Cakupannya mulai dari perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, efisiensi air, penurunan emisi, efisiensi energi, pengurangan limbah B3, penurunan beban pencemaran non-B3, inovasi sosial, hingga Local Hero Inspiratif.
Keragaman unit dan jenis inovasi yang mendapat apresiasi menunjukkan semangat keberlanjutan sudah menjadi bagian dari budaya kerja Pertamina. Dari kawasan pesisir sampai perkotaan, inovasi terus dikembangkan untuk menjawab tantangan di masing-masing wilayah.