NUSA TENGGARA BARAT — Le Faux Soir mengangkat kisah nyata perlawanan bawah tanah Belgia pada November 1943. Roskam kembali menyutradarai film fitur pertamanya sejak Racer and the Bird yang juga tayang di TIFF pada 2017.
Film ini berlatar Belgia 1943, saat surat kabar harian Le Soir berubah menjadi alat propaganda Nazi Jerman setelah invasi 1940. Publik menjulukinya "Le Soir Volé" atau "Le Soir yang Dicuri".
Sekelompok pejuang Resistance menyusun rencana nekat mencetak edisi palsu Le Soir. Isinya penuh artikel yang menyindir sang penjajah. Aksi ini disebut sebagai "media hack" pertama di dunia.
Arieh Worthalter, yang dikenal lewat The Goldman Case, memimpin jajaran pemain. Ia didampingi Mélanie Thierry (Da 5 Bloods, Memoir of War) dan Karim Leklou (Beating Hearts, Jim's Story).
Nama lain yang bergabung: Mara Taquin (The Mohicans), Bouli Lanners (Nobody Has to Know), Julien Frison (The Night of the 12th), dan François Damiens (Dog on Trial).
Le Faux Soir tayang perdana di TIFF sebagai Special Presentation akhir pekan ini. Setelah itu, film menjadi penutup San Sebastian. Cinéart memegang hak distribusi untuk wilayah Benelux, sementara Goodfellas menangani penjualan internasional.
Produksi film ini digarap Jean-Yves Roubin dan Cassandre Warnauts dari Frakas Productions (Belgia). Alice Girard dan Vincent Maraval dari Goodfellas/Rectangle Productions (Prancis) turut memproduksi bersama Harbor Men Pictures milik Roskam.
Le Faux Soir menambah daftar film perlawanan Eropa yang menyorot peran media dalam sejarah pendudukan Nazi, sebuah tema yang masih relevan di pasar festival internasional.