NUSA TENGGARA BARAT — Melihat anak balita lancar menggeser layar dan memilih tontonan favoritnya memang bikin Mama kagum. Tapi di balik kepintaran itu, ada satu hal yang sering luput: anak bisa terlihat tenang justru karena otaknya sedang kebanjiran rangsangan dari layar.
Menurut dr. Sri Rezeki, Sp.A(K) lewat unggahan Instagram-nya, anak usia dini sebenarnya butuh lebih banyak bermain, bergerak, menyentuh benda, dan berinteraksi langsung dengan orang tua. Yuk, cermati tanda-tandanya sebelum kebiasaan ini makin sulit diubah.
Anak yang sudah bisa membuka aplikasi, memilih video, atau berpindah fitur memang terlihat mengagumkan. Tapi kemampuan ini hanya menunjukkan satu hal: anak bisa mempelajari cara kerja perangkat.
dr. Sri Rezeki, Sp.A(K) menegaskan anak usia dini belum siap menerima stimulasi digital terus-menerus. Jika screen time berlebihan, otak anak bisa mengalami overstimulation.
Perkembangan otak di usia ini justru dibangun lewat pengalaman nyata. Bermain, bergerak, bereksplorasi, berkomunikasi, dan bonding bersama orang tua jauh lebih penting dibanding mahir memakai gadget.
Anak kecewa saat waktu bermain gadget habis itu wajar. Yang perlu Mama perhatikan adalah kalau Si Kecil selalu tantrum setiap HP diambil, reaksinya sulit ditenangkan, dan ia terus merengek minta dikembalikan.
Tantrum seperti ini termasuk tanda anak menerima stimulasi layar berlebihan. Tanda lain yang menyertai biasanya anak sulit fokus, cepat bosan, dan tidak bisa bermain tanpa HP.
Mama tidak perlu langsung melarang total. Coba buat aturan yang konsisten: beri tahu kapan waktunya main HP dan kapan harus berhenti.
Begitu screen time selesai, langsung alihkan perhatian anak ke kegiatan menyenangkan. Membaca buku, bermain balok, menggambar, atau sekadar mengobrol bisa jadi pilihan. Perlahan anak paham bahwa HP bukan satu-satunya sumber hiburan.
Baru lima menit bermain, anak sudah bilang bosan dan minta menonton video lagi. Kalau ini sering terjadi bersamaan dengan kebiasaan main gadget dalam waktu lama, ada baiknya Mama mulai waspada.
Konten digital menyajikan rangsangan cepat dan terus berganti. Anak yang terbiasa dengan pola ini akan merasa aktivitas yang butuh perhatian lebih lama jadi kurang menarik.
Akibatnya, membaca buku, menyusun balok, atau bermain mainan sederhana terasa membosankan baginya. Mama tidak perlu panik dan langsung menyimpulkan ada masalah tertentu.
Lihat dulu pola penggunaan gadget dan keseimbangan aktivitas hariannya. Ajak anak menyusun puzzle, menggambar, membaca buku bersama, atau bermain peran. Kegiatan ini sekaligus jadi momen bonding yang berkualitas.
Anak yang selalu butuh HP untuk merasa senang perlu mendapat perhatian khusus. Kemampuan bermain mandiri tanpa layar adalah bagian penting dari perkembangan sosial dan emosinya.
Kalau Si Kecil hanya bisa tenang saat menatap layar, coba kenalkan kembali permainan yang melibatkan gerak dan imajinasi. Ajak ia berlari di halaman, menyusun mainan, atau bermain peran bersama Mama.
Perubahan tidak akan instan. Tapi dengan konsistensi dan pendampingan, anak perlahan belajar menikmati dunia nyata tanpa harus selalu bergantung pada gadget.
Bila tantrum makin sering, anak sulit fokus dalam jangka panjang, atau kemampuan bicara dan bersosialisasinya terhambat, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak. Terutama jika screen time sudah menggeser waktu tidur, aktivitas fisik, dan interaksi keluarga.
Dokter dapat membantu Mama menilai apakah ada faktor lain yang memengaruhi perilaku anak. Jangan menunggu sampai kebiasaan ini mengganggu tumbuh kembangnya.
Yang paling penting, atur penggunaan gadget sesuai usia, durasi, konten, dan pendampingan. Screen time tidak boleh menggantikan tidur, gerak, belajar, bermain, dan kebersamaan keluarga. Mulai dari satu perubahan kecil hari ini, Mama sudah memberi anak ruang tumbuh yang lebih sehat.