SELONG — Pasar Pancor di Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, menyimpan risiko kebakaran yang mengkhawatirkan. Sebagian besar bangunan los di pasar seluas sekitar dua hektare itu masih berdiri dari material kayu, triplek, dan bambu. Jika api sampai menyala, potensi rambatannya sangat cepat.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa kesempatan, kabel instalasi listrik di pasar sempat terbakar akibat korsleting. Namun, hingga kini penataan jaringan listrik belum kunjung dilakukan secara menyeluruh.
Kepala Pasar Pancor Rudi Wahyudi mengungkapkan, seluruh kawasan pasar yang luasnya mencapai dua hektare masih bergantung pada satu meteran listrik berkapasitas sekitar 1.500 KWh. Model penyambungan yang ada saat ini dinilai semrawut dan menjadi sumber kerawanan utama.
"Model penyambungan listrik kita masih semrawut. Beberapa kali kejadian kabel terbakar akibat korsleting," ujar Rudi, Selasa (11/2/2025).
Menurut Rudi, kondisi tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran, tetapi juga membahayakan pedagang dan pengunjung dari potensi sengatan listrik. Ia menilai, penataan instalasi listrik menjadi kebutuhan yang mendesak untuk dilakukan.
Ia mengusulkan setiap los memiliki panel kelistrikan sendiri agar jaringan lebih tertata dan aman. Setidaknya dibutuhkan tiga panel kelistrikan untuk mewujudkan sistem tersebut, dengan perkiraan biaya mencapai Rp100 juta lebih.
Persoalan lain yang tidak kalah krusial adalah saluran drainase. Pasar Pancor disebut tidak memiliki saluran air yang memadai. Akibatnya, saat hujan turun, air langsung menggenangi kawasan pasar dan mengganggu aktivitas jual beli.
"Saluran air tidak ada. Kalau hujan, banjir. Coba dinas sekali-sekali turunlah agar tahu kondisi pasar kita," tegas Rudi.
Rudi berharap Dinas Perdagangan atau Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, termasuk Bupati H. Haerul Warisin, bisa melihat langsung kondisi di lapangan. Ia menyayangkan selama ini kebutuhan perawatan pasar tidak didukung anggaran yang memadai, bahkan cenderung tidak ada.
Sebagai solusi jangka pendek, ia mengusulkan sekitar tiga persen dari hasil retribusi pengelolaan pasar yang masuk ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) dialokasikan untuk biaya perawatan. Dengan begitu, kerusakan fasilitas bisa segera ditangani sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Camat Selong Lalu Ridho Arindi menyampaikan hal senada. Ia menilai penataan drainase dan kelistrikan merupakan bagian penting dari mitigasi risiko di pasar tradisional. Kondisi fisik pasar yang masih menggunakan material mudah terbakar membuat pengawasan harus diperketat.
"Pasar kondisinya rentan. Kayu dan bambu, jika ada api cepat terjadi kebakaran," kata Lalu Ridho Arindi.
Sembari menunggu penanganan dari pemerintah daerah, Camat Selong mendorong pengelola dan pihak terkait untuk memperkuat kontrol rutin dan koordinasi sebagai langkah jangka pendek. Ia juga berharap revitalisasi pasar menjadi solusi jangka panjang untuk memperbaiki fasilitas, termasuk sistem kelistrikan dan drainase secara menyeluruh.