MATARAM — Pemerintah Provinsi NTB mulai memetakan kebutuhan tenaga kerja di Qatar agar bisa disesuaikan dengan kompetensi lulusan SMK setempat. Gubernur Lalu Muhammad Iqbal menyebut pembahasan soal pendidikan vokasi mengemuka saat pertemuan resmi dengan Dubes Qatar untuk Indonesia, Sultan bin Mubarak Saad Al-Dosari, Jumat (28/8).
“Ya macam-macam, masalah isu itu, masalah SMK juga, itu juga termasuk dari isu-isu yang kita bahas,” kata Iqbal usai pertemuan.
Pembicaraan antara Iqbal dan Al-Dosari berlangsung intensif dalam dua kesempatan terpisah. Keduanya lebih dulu berdiskusi informal hampir tiga jam pada Kamis malam, lalu melanjutkan pembahasan formal hampir dua jam keesokan harinya.
Penjajakan ini menjadi langkah awal untuk mencocokkan kebutuhan pasar kerja Qatar dengan ketersediaan tenaga kerja di NTB. Bagi provinsi yang selama ini mengandalkan pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI), terbukanya akses langsung ke Qatar dinilai bisa membuka pengalaman kerja internasional bagi lulusan vokasi.
Iqbal menilai hubungan Indonesia dan Qatar yang sudah terbangun lama menjadi modal utama untuk mempercepat realisasi kerja sama. Ia tidak ingin kerja sama hanya berhenti di level pemerintah, tetapi juga menjangkau pelaku usaha dan masyarakat di NTB.
“Modal terbesar kita dengan Qatar ini adalah kedekatan emosional. Sangat dekat antara Indonesia dan Qatar. Kita punya persepsi yang baik tentang masing-masing negara dan ini jadi modal kuat buat kita untuk membangun kerja sama,” ujar Iqbal yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Turki.
Pertemuan dengan Dubes Qatar tidak hanya membahas soal penempatan pekerja migran. Iqbal mengatakan pembicaraan juga merambah sektor investasi, hubungan antarsektor swasta, hingga konektivitas ekonomi antara NTB dan Qatar.
Langkah ini merupakan bagian dari penerjemahan semangat NTB Mendunia ke dalam program yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pemerintah provinsi berupaya memperluas akses generasi muda terhadap kesempatan pendidikan dan pasar kerja di luar negeri.