NUSA TENGGARA BARAT — Presiden Prabowo Subianto membongkar rencana penjualan tiga BUMN strategis di sektor pertahanan kepada investor asing. Dalam sambutannya saat meresmikan Bendungan Meninting di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7), ia mengaku menerima laporan bahwa PT PAL Indonesia, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sempat akan "dibunuh" atau dijual.
"Tadinya industri pertahanan mau dijual. PT PAL, PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia mau dibunuh. Mau dijual. Kita bangkitkan," ujar Prabowo, Jumat (10/7). Ia menegaskan tidak rela jika perusahaan-perusahaan milik negara itu jatuh ke tangan asing. "Banyak sekali perusahaan yang seolah-olah tadinya mau dijual ke asing. Saya larang," tegasnya.
Alih-alih melepas aset negara, pemerintah memilih membenahi tata kelola BUMN pertahanan. Prabowo menyebut pemberantasan korupsi menjadi kunci utama agar perusahaan-perusahaan ini bisa bangkit. "Tata kelola yang bersih dan transparan sebagai kunci kebangkitan industri pertahanan," kata Presiden.
Hasilnya mulai terlihat. PT PAL Indonesia kini mampu memproduksi kapal perang canggih secara mandiri. Prabowo mencontohkan Kapal Cepat Rudal KRI Sampari yang sepenuhnya dikerjakan oleh insinyur lokal, serta kapal selam KRI Alugoro hasil transfer teknologi dengan Korea Selatan. "PT PAL sekarang sudah bisa bikin kapal-kapal perang yang hebat-hebat," ucapnya.
Di sektor alat utama sistem persenjataan (alutsista), PT Pindad juga menuai pengakuan internasional. Prabowo mengungkapkan bahwa militer Kerajaan Arab Saudi telah menjalin kerja sama dengan BUMN ini. "Semua senapan dan senapan mesin tentara Arab Saudi ini akan dibangun oleh PT Pindad. Senjata kita teruji," tandas mantan Menteri Pertahanan itu.
Langkah penyelamatan tiga BUMN ini menjadi sinyal keras pemerintah untuk tidak lagi melepas aset strategis ke pihak asing. Dengan tata kelola yang bersih dan inovasi produk, Prabowo optimistis industri pertahanan dalam negeri bisa bersaing di kancah global tanpa harus kehilangan kendali kepemilikan.