Ketua FWL NTB Dorong Sekotong Tinggalkan Tambang Ilegal demi Pariwisata Berkelanjutan di Orong Bukal

Penulis: Khoirul Anwar  •  Selasa, 23 Juni 2026 | 10:31:01 WIB
Ketua FWL NTB mendorong Sekotong meninggalkan tambang ilegal demi pengembangan pariwisata berkelanjutan di Orong Bukal.

LOMBOK BARAT — Hamparan laut biru berpadu dengan gugusan perbukitan hijau di Orong Bukal, Kecamatan Sekotong, kerap disebut sebagai "Raja Ampat-nya Lombok" oleh para wisatawan. Kawasan yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari Kota Mataram ini mulai dilirik sebagai simbol harapan baru bagi transformasi ekonomi masyarakat setempat.

Saudi Al Gibran menegaskan, masa depan Sekotong tidak seharusnya dipertaruhkan pada aktivitas eksploitasi sumber daya yang bersifat sesaat. "Sekotong memiliki modal alam yang tidak dapat diproduksi ulang. Ketika lingkungan rusak akibat aktivitas tambang ilegal, yang hilang bukan hanya ekosistem, tetapi juga peluang ekonomi generasi berikutnya," ujarnya.

Mengapa Pariwisata Lebih Unggul Dibanding Tambang Ilegal?

Menurut Saudi, sektor pariwisata berkelanjutan mampu menciptakan efek berganda yang jauh lebih luas dibandingkan pertambangan. Efek itu mencakup lapangan kerja, pertumbuhan UMKM, jasa transportasi, hingga penguatan identitas kawasan.

"Secara ekonomi lingkungan, pariwisata berkelanjutan memberikan nilai manfaat dalam horizon jangka panjang. Sementara eksploitasi sumber daya cenderung menghasilkan keuntungan sesaat dan berisiko menimbulkan kerusakan ekologis," jelasnya.

Transformasi Ekonomi Tak Cukup dengan Imbauan

Saudi menekankan, transformasi ekonomi masyarakat tidak cukup hanya dengan imbauan meninggalkan tambang ilegal. Harus diikuti dengan pembangunan ekosistem pariwisata yang nyata, mulai dari peningkatan akses, pelatihan sumber daya manusia, promosi destinasi, penguatan kelembagaan desa wisata, hingga dukungan investasi yang tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.

"Pariwisata sesungguhnya adalah bentuk investasi antar generasi. Alam yang terjaga akan terus menghasilkan manfaat ekonomi tanpa kehilangan fungsi ekologisnya," katanya.

Desakan untuk Dispar NTB: Jadikan Orong Bukal Kawasan Nol Sampah

Saudi memberikan penekanan khusus kepada Dinas Pariwisata Provinsi NTB dan Dinas Pariwisata Lombok Barat. Ia meminta agar kedua instansi tidak hanya fokus pada promosi destinasi, tetapi mulai menyiapkan kebijakan perlindungan lingkungan yang konkret di kawasan Orong Bukal.

"Jangan hanya diam melihat potensi besar yang dimiliki Orong Bukal. Dispar NTB dan Dispar Lombok Barat harus mulai mengambil langkah nyata dengan menargetkan Orong Bukal sebagai kawasan nol sampah," tegasnya.

Ia mengusulkan sejumlah langkah konkret: pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, kewajiban pengelolaan sampah bagi pelaku usaha wisata, penyediaan fasilitas pemilahan sampah, pengawasan rutin, hingga penerapan sanksi terhadap pelanggaran lingkungan.

Kebersihan Destinasi Jadi Bagian Investasi Pariwisata

Menurut Saudi, menjaga kebersihan destinasi merupakan bagian dari investasi pariwisata jangka panjang. Sebab, wisatawan saat ini tidak hanya mencari pemandangan yang indah, tetapi juga kawasan yang bersih, tertata, dan memiliki komitmen terhadap pelestarian alam.

"Kalau kita ingin Orong Bukal dikenal dunia, maka kebersihan dan kelestarian lingkungan harus menjadi fondasi utama pembangunannya," pungkasnya.

Reporter: Khoirul Anwar
Sumber: tamborapost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top