PRAYA — Ribuan warga memadati arena MTQ XXXI di Praya, Lombok Tengah, sejak pawai ta’aruf hingga malam pembukaan. Mereka tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pembinaan Al-Qur’an yang tengah dibangun secara sistematis oleh pemerintah daerah.
Di bawah kepemimpinan Bupati H. Lalu Pathul Bahri, Lombok Tengah menyulap penyelenggaraan MTQ kali ini setara dengan standar nasional. Arena utama yang megah, penataan lokasi lomba yang representatif, serta Tarian Kolosal Rahmatan Lil ‘Alamin pada malam pembukaan menjadi bukti keseriusan tuan rumah.
Yang membedakan MTQ XXXI bukanlah kemegahan panggungnya, melainkan optimisme baru yang lahir dari pengakuan eksternal. Sekretaris Umum LPTQ Pusat, Prof. Dr. H. Muchlis M. Hanafi, secara khusus mengapresiasi tingginya kecintaan masyarakat NTB kepada Al-Qur’an. Pengakuan ini menjadi modal sosial yang memperkuat klaim NTB sebagai daerah dengan budaya Qur’ani yang subur.
Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, menempatkan MTQ sebagai bagian dari ikhtiar besar. Visi Serambi Al-Qur’an bukan sekadar semboyan, melainkan arah pembangunan karakter masyarakat melalui penguatan literasi Al-Qur’an, pembinaan qari dan qariah, serta penanaman nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Keberhasilan penyelenggaraan MTQ XXXI tidak lepas dari sinergi antara Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, LPTQ, dewan hakim, panitia, aparat keamanan, relawan, dan seluruh elemen masyarakat. Sinergi inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun tradisi Qur’ani yang kokoh di Bumi Gora.
Selama pelaksanaannya, MTQ berlangsung aman, tertib, dan penuh kekhidmatan. Beberapa dinamika seperti keberatan terhadap hasil penilaian dan kendala teknis diselesaikan secara terbuka oleh panitia dan dewan hakim berdasarkan pedoman yang berlaku.
Seluruh babak penyisihan telah rampung dan melahirkan para finalis terbaik dari berbagai cabang musabaqah. Kompetisi berlangsung sehat dan sportif, menunjukkan bahwa semangat para kafilah dari sepuluh kabupaten dan kota di NTB tidak hanya diarahkan untuk meraih kemenangan, tetapi juga untuk memuliakan Al-Qur’an dan mempererat ukhuwah Islamiyah.
Menjelang babak final, harapan besar tertuju pada dewan hakim untuk terus mengedepankan profesionalisme, objektivitas, dan keadilan dalam setiap proses penilaian. Dari proses yang kredibel akan lahir para juara terbaik yang bukan hanya layak mewakili NTB, tetapi juga memiliki kapasitas untuk bersaing dan mengharumkan nama daerah pada MTQ tingkat nasional.
Nilai sejati MTQ XXXI, menurut panitia, terletak pada tumbuhnya kecintaan masyarakat kepada Al-Qur’an dan menguatnya persaudaraan di tengah keberagaman. Ini adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa diukur dari banyaknya piala yang diperebutkan.