20 Perempuan di Lombok Tengah Dirikan Ruang Belajar Aman, Hasil Jahitan Tembus Pasar Belanda

Penulis: Jefri Siahaan  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 21:01:01 WIB
Empat perempuan Desa Bunut Baok mendirikan ruang belajar aman untuk pemberdayaan perempuan.

LOMBOK TENGAH — Empat perempuan Desa Bunut Baok, Lombok Tengah, memutuskan untuk tidak lagi menunggu. Mereka menggagas “Perempuan Bekesah”, sebuah ruang belajar yang dibangun dari dan untuk perempuan di kampung mereka. Berawal dari obrolan santai di kediaman Muslim dan Ibu Komariah pada Kamis (11/6/2026), inisiatif ini tumbuh menjadi kelompok yang solid.

Putus Sekolah di Usia Muda, Nikah, dan Merindu Bangku Kelas

Mayoritas anggota kelompok adalah perempuan yang menikah di usia anak, sekitar 14 tahun, dan putus sekolah. Aktivitas sehari-hari mereka hanya berkutat pada urusan domestik: memasak, mencuci, mengurus anak dan suami.

“Tidak ada waktu untuk belajar, padahal saya rindu untuk sekolah lagi,” ujar seorang anggota yang enggan disebut namanya.

Kondisi ini mendorong para inisiator—Ibu Komariah, Nurkhotimah, Mutiara, dan Nurlia—untuk menciptakan ruang aman bagi sesama perempuan. Tujuannya bukan sekadar ngobrol, melainkan berbagi informasi, pengalaman, dan keluar dari situasi sulit bersama.

Dari Sadar Hak hingga Melawan Ketidakadilan

Seiring pertemuan demi pertemuan, para anggota mulai menyadari bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar dan menjadi pintar. Mereka juga mulai mengenali bentuk-bentuk ketidakadilan seperti diskriminasi, kekerasan, beban ganda, hingga stereotip.

“Sangat jarang perempuan berinisiatif untuk membangun sendiri ruang amannya untuk belajar,” kata Nurkhotimah, salah satu inisiator.

Dari ruang diskusi itu, lahir kesadaran bersama untuk membangun kemandirian ekonomi. Mereka memilih jalan menjahit dan memproduksi tas yang mengombinasikan bahan tenun khas Lombok Tengah.

Tembus Pasar Eropa, Terkendala Modal Alat

Meski masih berskala rumahan, produk tas kelompok “Perempuan Bekesah” sudah menembus benua Eropa, khususnya Belanda. Salah satu pelanggan setia mereka adalah mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di sana. Setiap kali libur dan kembali ke Belanda, mahasiswa itu membawa serta produk tas tenun untuk dipromosikan di kalangan akademisi.

“Produknya sangat diminati karena dianggap artistik dan tak ada yang membuat di sana,” ungkap para anggota.

Namun, keberhasilan ini dihadapkan pada tantangan klasik: keterbatasan alat dan bahan jahit. Saat permintaan melonjak, produksi justru terhambat meski tenaga kerja tersedia. Kelompok ini berharap ada perhatian dari perusahaan atau pemerintah, terutama bantuan alat dan teknologi produksi yang lebih memadai.

Apa yang Dibutuhkan Agar Skala Produksi Naik?

Para perempuan di Desa Bunut Baok sudah memiliki sumber daya manusia yang siap. Mereka hanya butuh suntikan modal peralatan agar kapasitas produksi bisa mengimbangi permintaan pasar. Dengan dukungan yang tepat, produk tenun Lombok Tengah dari tangan mereka berpotensi menjadi ikon ekonomi kreatif desa yang berkelanjutan.

Reporter: Jefri Siahaan
Sumber: lombokboss.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top