MATARAM — Informasi Iklim Dasarian III September 2026 yang disusun BMKG Stasiun Klimatologi NTB menempatkan kekeringan meteorologis di provinsi ini pada fase terluas. Forecaster on Duty Made Budi Setyawan menyebut curah hujan di NTB umumnya berada di kategori rendah, hanya 0–10 milimeter per dasarian.
Monitoring hari tanpa hujan (HTH) menunjukkan rentang kondisi dari menengah 11–20 hari hingga kekeringan ekstrem di atas 60 hari. Pos Hujan Belo dan Bolo di Kabupaten Bima mencatat HTH terpanjang, yakni 135 hari.
Peluang Hujan Awal Oktober Sangat Rendah
Pada Dasarian I Oktober 2026 atau periode 1–10 Oktober, BMKG memperkirakan peluang curah hujan di sebagian besar wilayah NTB kurang dari 10 persen. Sifat hujan berada pada kategori Bawah Normal hingga Atas Normal.
BMKG juga mencatat tidak ada peringatan dini curah hujan tinggi pada periode tersebut. Artinya, potensi hujan lebat yang bisa memutus kemarau panjang belum terlihat dalam sepuluh hari pertama Oktober.
El Niño Sangat Kuat Bertahan hingga Awal 2027
Dari sisi dinamika atmosfer, Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kategori positif dengan indeks +0,935 dan berpeluang bertahan hingga akhir 2026. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 menunjukkan ENSO pada kategori El Niño sangat kuat dengan indeks +2,63.
BMKG memprediksi El Niño sangat kuat akan bertahan hingga awal 2027. Aliran massa udara di sebagian besar Indonesia masih didominasi angin timuran, dengan belokan angin terpantau di sekitar wilayah ekuator.
Untuk Oktober–November 2026, anomali suhu muka laut di perairan Indonesia diprediksi didominasi kondisi normal hingga lebih dingin, berkisar -0,5 hingga 0,2 derajat Celsius. Kondisi tersebut diperkirakan mulai menghangat pada Desember 2026.
Daftar Wilayah Level Awas, Siaga, dan Waspada
Peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG membagi wilayah NTB ke dalam tiga level. Level Awas mencakup sejumlah wilayah di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, dan Kota Bima.
Khusus Kabupaten Bima, wilayah Level Awas meliputi Kecamatan Belo, Bolo, Lambitu, Langgudu, Mada Pangga, Palibelo, Sape, Soromandi, Tambora, dan Wawo. Di Kota Bima, status Awas berlaku untuk Kecamatan Raba.
Level Siaga mencakup Kecamatan Sanggar di Kabupaten Bima; Kecamatan Sambelia di Lombok Timur; Kecamatan Bayan di Lombok Utara; serta Kecamatan Buer di Sumbawa. Adapun Level Waspada meliputi Kecamatan Praya Tengah di Lombok Tengah; Kecamatan Montong Gading, Sikur, dan Wanasaba di Lombok Timur; serta Kecamatan Sekongkang dan Seteluk di Sumbawa Barat.
Imbauan Hemat Air dan Waspada Kebakaran
Seiring meluasnya wilayah berstatus Siaga hingga Awas, BMKG mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman.
BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak membakar sampah sembarangan dan tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. Selama periode kemarau, warga diminta menjaga kesehatan dan memastikan kecukupan cairan tubuh.
BMKG juga meminta masyarakat memperhatikan informasi resmi terkait kondisi cuaca dan iklim. Langkah itu untuk mengantisipasi dampak bencana maupun kerugian dalam perencanaan kegiatan.