SUMBWA BARAT — Para petani di Kabupaten Sumbawa Barat diminta segera beralih menanam palawija seperti jagung, kedelai, dan kacang hijau. Komoditas tersebut dinilai jauh lebih tahan terhadap minimnya pasokan air dibandingkan padi.
Kepala Bidang Produksi Pertanian pada Dinas Pertanian KSB, Syamsul Rizal, menyampaikan bahwa keputusan ini telah disepakati bersama dalam rapat Komisi Irigasi. Kesepakatan itu lahir dari kekhawatiran akan merosotnya debit air bendungan saat kemarau mencapai puncaknya.
“Komisi Irigasi menyepakati alih pola tanam demi menyelamatkan produksi pertanian warga,” ujar Syamsul Rizal kepada NTBSatu, Kamis (13/8).
Tanaman Palawija Jadi Andalan Saat Musim Kemarau
Pihak dinas pertanian menilai peralihan ini bukan tanpa alasan. Palawija memiliki kebutuhan air yang jauh lebih sedikit hingga masa panen tiba, sehingga risiko gagal panen bisa ditekan seminimal mungkin.
“Tanaman palawija hanya membutuhkan sedikit pasokan air hingga masa panen tiba,” tambahnya.
Para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) saat ini terus mengintensifkan sosialisasi kebijakan baru ini ke tingkat kelompok tani. Namun, tidak semua petani langsung menerima imbauan tersebut.
Sebagian Petani Masih Nekat Tanam Padi
Syamsul Rizal mengungkapkan, masih ada kelompok petani yang bersikukuh menanam padi. Mereka umumnya berada di dekat lokasi bendungan dan merasa pasokan irigasi untuk lahan mereka masih mencukupi.
“Sebagian petani di dekat lokasi bendungan masih nekat menanam padi,” ungkap Rizal.
Padahal, menurut perhitungan dinas, debit air bendungan berpotensi merosot tajam pada puncak kemarau mendatang. Jika itu terjadi, tanaman padi yang sudah telanjur ditanam akan menjadi korban dan petani berpotensi mengalami kerugian besar.
Selain Kemarau, Petani KSB Juga Hadapi Tanah Asam
Persoalan musim kemarau bukan satu-satunya ancaman yang dihadapi petani di wilayah ini. Tim teknis Dinas Pertanian KSB juga menemukan tingkat keasaman tanah yang cukup tinggi di Kecamatan Brang Ene.
“Kondisi tanah asam mengancam tingkat produktivitas tanaman padi milik warga,” tutur Rizal.
Kondisi ini semakin memperkuat alasan mengapa petani di daerah tersebut disarankan untuk tidak memaksakan diri menanam padi. Para penyuluh lapangan pun terus mendampingi warga untuk mengolah lahan secara benar, dengan tetap memperhitungkan faktor cuaca agar pendapatan keluarga tetap stabil.