Pencarian

Museum NTB Bawa Kain Osap ke Pameran Nasional di Yogyakarta, Tenun Sakral Pengiring Ritual Kematian Masyarakat Sasak

Sabtu, 06 Juni 2026 • 21:36:31 WIB
Museum NTB Bawa Kain Osap ke Pameran Nasional di Yogyakarta, Tenun Sakral Pengiring Ritual Kematian Masyarakat Sasak
Kain Osap dari Lombok dipamerkan di Museum Sonobudoyo Yogyakarta sebagai warisan budaya Sasak.

YOGYAKARTA — Di antara puluhan kain Nusantara yang dipamerkan di Gedung Saraswati Museum Sonobudoyo, kain Osap dari Lombok menyedot perhatian. Bukan karena motifnya semata, melainkan karena filosofi spiritual yang melekat di setiap helainya.

Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, menjelaskan bahwa kain Osap memiliki fungsi sakral dalam tradisi masyarakat Sasak. Kain ini menjadi penanda transisi kehidupan manusia menuju alam baka.

"Kain Osap bukan sekadar pakaian, melainkan benda magis yang menjadi penanda transisi kehidupan manusia menuju alam baka dalam kepercayaan adat Sasak," ujar Nuralam dalam keterangan yang diterima di Yogyakarta, Jumat (5/6/2026).

Tiga Warna dengan Makna Spiritual

Keunikan kain Osap terletak pada perpaduan tiga warna dasarnya: putih, merah, dan biru. Setiap warna menyimpan simbol kekuatan magis yang berbeda.

Warna putih melambangkan kesucian, keikhlasan, dan kepasrahan atau husnul khotimah. Sementara warna merah dan biru dikaitkan dengan kekuatan spiritual serta perlindungan bagi pemakainya.

Nuralam berharap partisipasi ini bisa memperkenalkan kekayaan tekstil NTB ke panggung nasional. "Kami harap melalui pameran ini, kekayaan warisan budaya tekstil NTB dapat dikenal masyarakat luas di tingkat nasional," harapnya.

Menteri Kebudayaan: Wastra Instrumen Diplomasi

Pameran Nusa Wastra dibuka langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Dalam sambutannya, ia menekankan peran museum sebagai garda depan pelestarian warisan budaya benda (WBB), khususnya kain tradisional.

Menurut Fadli Zon, wastra Indonesia telah menembus pasar internasional dan menjadi motor inovasi industri fesyen. Ia mencontohkan batik yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda sejak 2009.

"Jadi Wastra adalah instrumen diplomasi budaya yang signifikan serta dapat mempererat hubungan serta kerjasama antar bangsa," ujar Fadli Zon.

85 Koleksi dari Seluruh Nusantara

Pameran ini menghadirkan 85 koleksi wastra dan 22 benda penunjang. Kain yang dipamerkan beragam, mulai dari kain kulit kayu (bark cloth), batik, hingga tenun ikat dari berbagai daerah.

Storyline pameran terbagi dalam tujuh subtema, antara lain "Kain-Kain Magis", "Wastra Wasesa", dan "Wastra Nusantara: Warisan untuk Masa Depan". Sebanyak 14 museum negeri dari berbagai provinsi turut berpartisipasi, termasuk Museum Aceh, Museum Ronggowarsito, dan Museum Sri Baduga.

Museum NTB sendiri hanya membawa satu jenis kain dalam pameran ini, yakni kain Osap. Pilihan itu dinilai strategis untuk memperkenalkan identitas budaya Sasak yang sarat nilai spiritual kepada pengunjung dari berbagai daerah.

Bagikan
Sumber: suarantb.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks