NUSA TENGGARA BARAT — PT Toyota Astra Motor dan PT Honda Prospect Motor menyatakan dukungan atas rencana Kementerian Perindustrian memberi insentif bagi mobil hybrid, PHEV, dan REEV. Kedua ATPM menilai stimulus itu bisa memperluas akses konsumen ke kendaraan elektrifikasi, meski Honda belum mengubah strategi produk sebelum aturan resmi terbit.
Dukungan itu disampaikan menyusul pernyataan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji yang menekankan pentingnya insentif nonfiskal bagi kendaraan berteknologi hybrid, plug-in hybrid, dan range extended electric vehicle. Skema yang dirumuskan mencakup pembebasan aturan ganjil genap, kemudahan administrasi, hingga fasilitas parkir khusus.
Menurut Kemenperin, kebijakan tersebut strategis untuk menekan emisi sekaligus mengurangi konsumsi BBM bersubsidi. Pemerintah juga ingin memberi ruang bagi industri komponen lokal beradaptasi tanpa harus merombak total fasilitas produksi. Targetnya, usulan insentif ini bisa dipercepat tahun ini.
Vice President Director TAM Jap Ernando Demily menilai insentif pemerintah sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Kebijakan itu diharapkan membuka akses lebih luas bagi masyarakat untuk beralih ke kendaraan elektrifikasi.
"Dengan semakin beragamnya pilihan model dan teknologi yang didukung kebijakan insentif, kami berharap semakin banyak masyarakat Indonesia dapat beralih ke kendaraan elektrifikasi sesuai kebutuhan masing-masing," ujar Ernando saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (22/10).
Ernando menyebut dorongan pemerintah terhadap segmen hybrid berdampak penting bagi keberlanjutan ekosistem industri otomotif lokal yang menyerap banyak tenaga kerja. Ia berharap kebijakan ini turut mendorong investasi dan pengembangan industri dalam negeri.
"Di sisi lain, kami berharap kebijakan ini juga dapat memperkuat ketahanan industri otomotif nasional, mendorong investasi dan pengembangan industri lokal, serta menjaga keberlanjutan lapangan kerja," tuturnya.
Soal prospek pasar, TAM optimistis ceruk mobil hybrid di Indonesia masih potensial. Meski begitu, Ernando menegaskan kendaraan konvensional tetap punya peran penting dalam menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang beragam.
Sales & Marketing and After Sales Director HPM Yusak Billy menilai insentif fiskal maupun nonfiskal dapat memberi nilai tambah bagi konsumen. Stimulus itu juga dinilai bisa mempercepat penetrasi kendaraan rendah emisi di pasar domestik.
"Insentif, baik fiskal maupun nonfiskal, dapat memberikan nilai tambah bagi konsumen dan membantu memperluas adopsi kendaraan rendah emisi," ucap Yusak.
Kendati mendukung, HPM belum mengubah strategi lini produknya di Indonesia. Perusahaan masih menunggu detail kebijakan resmi dari pemerintah sebelum mengambil langkah lanjutan.
Yusak optimistis keterjangkauan teknologi hybrid makin terbuka jika stimulus terealisasi. Namun ia mengingatkan variasi kebutuhan pasar nasional tetap harus diperhitungkan.
"Jika insentif tersebut direalisasikan, kami melihat ada peluang pasar hybrid berkembang lebih luas karena teknologi ini semakin terjangkau," lanjutnya.
Bagi HPM, keberlanjutan industri otomotif dan daya beli masyarakat sangat bergantung pada kepastian regulasi. Yusak menempatkan konsistensi kebijakan sebagai faktor utama yang menentukan respons pabrikan.
"Bagi kami, yang terpenting adalah adanya kebijakan yang konsisten dan menyeluruh untuk menjaga daya beli konsumen," kata Yusak.
Rencana insentif ini menambah daftar stimulus yang tengah dibahas pemerintah untuk mendorong adopsi kendaraan rendah emisi. Bagi konsumen, besaran manfaatnya baru bisa dihitung setelah skema resmi Kemenperin terbit dan masa berlaku promo ditetapkan.