Kekeringan Ekstrem Landa 6 Kecamatan di Lombok Barat, 17 Desa dan 63 Dusun Terdampak

Penulis: Nasrul Hidayat  •  Jumat, 18 September 2026 | 08:01:31 WIB

GIRI MENANG — Kepala Bidang Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat, Toni Hidayat, menyatakan kekeringan meluas ke enam kecamatan yang mencakup 17 desa atau 63 dusun. Penetapan status tanggap darurat membuat Pemkab Lombok Barat dapat menggunakan Anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) untuk penanganan kekeringan, naik dari sebelumnya berstatus siaga.

Penyaluran air bersih ke daerah-daerah kekeringan dimaksimalkan menyusul penetapan status tersebut. Berdasarkan prakiraan cuaca, puncak kekeringan diprediksi terjadi pada September hingga Oktober, namun kondisi itu berpotensi berlangsung lebih lama hingga November.

Empat Kecamatan Masuk Kategori Kekeringan Ekstrem

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I NTB, Putrantijo, menyampaikan hampir semua wilayah Lombok Barat mengalami hari tanpa hujan (HTH). Sebarannya di delapan kecamatan, masing-masing Kecamatan Gerung dua desa, Gunungsari satu desa, Kediri dua desa, Labuapi satu desa, Lembar satu desa, serta Lingsar, Narmada, dan Sekotong masing-masing satu desa.

Dari 10 daerah yang masuk kategori HTH, empat di antaranya tergolong kekeringan ekstrem, yakni Sekotong, Lembar, Gerung, dan Labuapi. "Berdasarkan monitoring HTH Berturut–turut Provinsi NTB secara umum berada pada rentang Sangat Panjang (31-60 hari) hingga Kekeringan Ekstrem (>60 hari). HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Bolo (Kab. Bima) sepanjang 115 hari termasuk dalam kategori Kekeringan Ekstrem," kata Putrantijo.

Status Siaga hingga Awas di Tujuh Kecamatan

Peringatan dini kekeringan menempatkan sejumlah daerah di Lombok Barat pada level siaga, khususnya Kecamatan Gerung, Gunung Sari, Kediri, dan Lingsar. Level awas berlaku di Kecamatan Sekotong, Labuapi, dan Lembar.

Seluruh wilayah NTB saat ini resmi berada pada periode musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino. Sebanyak 27 Zona Musim (ZOM) terkonfirmasi memasuki periode musim kemarau sejak Dasarian I Juni 2026, dengan curah hujan pada Dasarian I September 2026 berada di kategori rendah 0–10 mm per dasarian.

Pada Dasarian II September 2026 (11–20 September), potensi hujan di sebagian besar wilayah NTB sangat rendah dengan peluang kurang dari 10 persen. Peluang hujan di atas 20 mm per dasarian sebesar 10–40 persen diprediksi terjadi di sebagian wilayah Kota Mataram, Lombok Barat, dan Sumbawa.

Imbauan BMKG: Hemat Air dan Waspadai Kebakaran

BMKG mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih. Warga juga diminta waspada terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman dengan tidak membakar sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi BMKG untuk mengantisipasi dampak bencana maupun kerugian dalam perencanaan kegiatan. Kondisi curah hujan yang rendah membuat wilayah terdampak kekeringan membutuhkan pasokan air bersih secara berkelanjutan hingga musim kemarau berakhir.

Reporter: Nasrul Hidayat
Sumber: ekbisntb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top