Lawata Fashion Week 2026 Bima Tampilkan Tenunan Khas ke Wisatawan 15 Negara

Penulis: Nasrul Hidayat  •  Senin, 14 September 2026 | 10:32:31 WIB
Model memperagakan busana berbahan tenunan khas Bima pada Lawata Fashion Week 2026 di tepi laut Lawata, Kota Bima.

NUSA TENGGARA BARAT — Rombongan berlayar dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sumbawa. Posisi Kota Bima di ujung timur NTB menempatkannya dalam jalur wisata bahari yang menghubungkan Labuan Bajo dan kawasan Mandalika di Pulau Lombok.

Kedatangan mereka disambut Tari Wura Bongi Monca. Rangkaian kunjungan kemudian diisi perjumpaan dengan budaya dan produk ekonomi kreatif warga setempat, salah satunya lewat Lawata Fashion Week 2026.

Panggung Tenun di Tepi Laut Lawata

Panggung sederhana menghadap laut menjadi ruang peragaan sore itu. Model melangkah satu per satu mengenakan busana berbahan utama tenunan khas Bima.

Kain dengan warna dan motif khas Bima tampil dalam potongan busana anggun. Peragaannya melibatkan anak-anak hingga orang dewasa, dari tingkat sekolah dasar sampai peserta dewasa.

Wisatawan mancanegara menyaksikan dari tepian panggung. Kamera dan telepon genggam sesekali terangkat mengabadikan ragam busana yang diperagakan.

112 Peserta dari LKP se-Kota Bima

Ajang ini diikuti 112 peserta dari Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) se-Kota Bima. Rinciannya, 57 peserta tingkat sekolah dasar, 42 perempuan dewasa, dan 13 laki-laki dewasa.

Seluruh peserta mengenakan busana dengan bahan utama tenunan khas Bima. Motif dan warna yang biasa hadir dalam pakaian sehari-hari dikemas ulang dengan sentuhan kreativitas yang lebih segar.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Bima, H. Sukarno, menyebut tenunan khas Bima bukan sekadar warisan budaya. Menurutnya, tenunan dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang memperluas fungsi sekaligus menjaga kelestariannya.

Wali Kota Bima, H. A. Rahman H. Abidin, menilai panggung ini sebagai wadah kreativitas, budaya, dan seni bagi anak muda untuk menyalurkan bakat. Ia berharap hasil karya desainer lokal mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

Dangdut Night hingga Bazar UMKM

Rangkaian acara berlanjut pada 12 September 2026 lewat Lawata Classic Dangdut Night. Panggung musik daerah itu meleburkan warga lokal dan peserta Sail to Indonesia dalam satu irama.

Di sekitarnya, etalase bazar UMKM menawarkan produk-produk lokal kepada wisatawan. Rubiah, salah seorang perajin UMKM, mengaku senang dengan kunjungan wisatawan mancanegara.

"Saya sangat senang ada kunjungan wisatawan mancanegara sehingga produk lokal bisa lebih dikenal. Harapannya event seperti ini terus tumbuh dan makin sering digelar," tuturnya.

Jejak Sejarah yang Dijelajahi Wisman

Wisatawan dari Swedia, Inggris, hingga Selandia Baru tidak hanya menyaksikan peragaan busana. Mereka menjelajahi jejak sejarah dan budaya Bima di sejumlah titik.

Kunjungan dijadwalkan ke Car Free Day Amahami, Istana Bima, sentra kriya Kelurahan Ntobo, Kompleks Makam Raja Dana Traha, hingga lanskap tradisional Uma Lengge di Wawo.

Sail to Indonesia Yacht Rally tahun ini menetapkan 16 titik persinggahan. Kota Bima pernah menjadi tuan rumah serupa pada 2007 dan kembali terpilih berkat kesiapannya menyambut turis mancanegara. Beberapa daerah lain seperti Buton, Selayar, dan Kolaka belum dapat disinggahi tahun ini.

Bagi traveler yang ingin menyusuri jejak serupa, Kota Bima dapat dijadikan titik singgah dalam rute wisata bahari NTB. Informasi jadwal acara dan kunjungan destinasi budaya setempat dapat dikonfirmasi ke Dinas Pariwisata Kota Bima.

Reporter: Nasrul Hidayat
Sumber: megapolitan.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top