Back in Black Tayang Perdana di TIFF, Christopher Walken Jadi Pemilik Rumah Duka Bangkrut

Penulis: Jefri Siahaan  •  Minggu, 13 September 2026 | 20:32:31 WIB
Sutradara Ron Murphy menghadiri pemutaran perdana film Back in Black di Festival Film Internasional Toronto.

NUSA TENGGARA BARAT — Back in Black bukan cerita misteri pembunuhan yang menebak-nebak siapa pelakunya. Ron Murphy menyutradarai satire tentang rumah duka sekeluarga yang hampir gulung tikar, lalu tiba-tiba kebanjiran pesanan peti mati setelah angka pembunuhan di kota kecil mereka melonjak misterius.

Polisi setempat bingung. Warga berdatangan membawa jenazah ke ambang pintu Mortimer. Di balik semua itu, Sam — cucu Clyde yang pendiam — ternyata punya peran yang tidak pernah disangka siapa pun.

Siapa Sam di Balik Back in Black

Sam diperankan Ella Ballentine, aktor cilik yang kini beralih ke peran dewasa. Siang hari ia bekerja sebagai juru rias jenazah. Malam hari, ia membunuh warga kota satu per satu.

Motifnya bukan kebencian. Sam melakukannya karena tidak tega melihat kakek dan neneknya bertengkar soal keuangan dan kehilangan masa pensiun yang layak.

"Saya bertanya ke penonton, seberapa jauh Anda mau melangkah untuk orang yang Anda cintai," kata Murphy kepada The Hollywood Reporter menjelang pemutaran perdana filmnya di TIFF.

Christopher Walken dan Negosiasi Awal yang Tak Biasa

Murphy mengingat percakapan telepon pertamanya dengan Walken setelah sang aktor membaca skrip. Walken sudah malang melintang memerankan tokoh gelap selama 50 tahun, termasuk peran Oscar lewat The Deer Hunter (1978).

Dalam panggilan itu, Walken menyebut bahwa aktor seusianya biasanya ingin memerankan orang normal. Murphy bersikeras Clyde Mortimer bukan orang jahat — ia hanya melakukan apa pun untuk keluarganya di masa sulit.

Murphy lalu melontarkan kalimat yang membuat Walken tertawa. "Ngomong-ngomong, saya tidak menulis ini untuk Anda. Saya dan Nick (Torokvei) menulisnya untuk Jack Lemmon. Dan dia tidak tersedia. Anda pilihan kedua kami."

Moral yang Sengaja Dibalik

Murphy menyebut filmnya sebagai drama psikologis yang membengkokkan moral, dengan nuansa yang ia gambarkan seperti Fargo bertemu Six Feet Under. Karakter Clyde pun tidak sepenuhnya bersih — ia menaikkan harga peti mati ke keluarga yang berduka.

"Orang jahat harus mendapat balasannya. Tapi kalau mereka melakukan hal buruk untuk alasan yang benar, moral penonton jadi bengkok, seperti yang kami lihat di penayangan uji coba," ujar Murphy.

Ia menambahkan bahwa situasi itu terasa terbalik, karena ada orang tak bersalah yang jadi korban. Di penayangan uji coba, sebagian besar penonton justru mendukung Sam. "Itu semacam trik, bukan?" kata Murphy.

Dari Asisten John Candy ke Layar Lebar

Back in Black adalah debut Murphy sebagai sutradara film panjang, meski namanya sudah lama berkecimpung di televisi. Ia memulai karier sebagai asisten mendiang komedian John Candy.

Dari sana ia menyutradarai berbagai episode komedi yang dibintangi Steve Carell, Leslie Nielsen, Tim Conway, Snoop Dogg, hingga Michael Cera dan Drake di peran kecil awal mereka. Kredit TV Kanadanya mencakup Trailer Park Boys, Heartland, Lost Girl, dan Wynonna Earp.

Murphy menyebut ada kegelapan dalam budaya yang ia rasakan sejak pandemi, dan ia ingin merefleksikannya lewat komedi. Sam sendiri tidak punya dialog sama sekali — pilihan yang ia ambil karena obsesinya pada Buster Keaton semasa sekolah film.

Harapan di TIFF

Murphy mengaku tidak memasang ekspektasi soal reaksi penonton Toronto nanti. Ia belajar dari karier televisinya untuk tidak terikat pada hasil.

"Begitu filmnya diputar di TIFF, film itu milik penonton. Mereka bisa melakukan apa pun, merespons bagaimana pun, dan saya cukup baik dalam melepaskan," ujarnya.

Back in Black menambah daftar film debut yang tayang perdana di TIFF tahun ini, memperkuat posisi festival tersebut sebagai panggung peluncuran bagi sutradara yang selama ini berkarya di televisi.

Reporter: Jefri Siahaan
Sumber: hollywoodreporter.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top