NUSA TENGGARA BARAT — Di tengah industri otomotif yang semakin bergantung pada kecerdasan buatan dan realitas virtual, Mazda justru mengambil langkah berbeda. Pabrikan asal Hiroshima itu masih setia menggunakan model tanah liat fisik dalam proses perancangan mobil baru mereka.
Metode ini bukan sekadar mempertahankan tradisi. Bagi Mazda, tanah liat adalah alat krusial untuk menciptakan tampilan khas mereka yang dikenal sebagai desain "Kodo".
Proses desain Mazda sebenarnya dimulai sama seperti produsen lain. Para desainer membuat sketsa, baik di atas kertas maupun melalui perangkat lunak computer-aided design (CAD).
Dari berbagai gagasan tersebut, mereka memilih konsep yang paling tepat untuk dikembangkan. Namun, di sinilah alur kerja Mazda mulai berbeda dari banyak kompetitornya.
Setelah desain digital selesai, Mazda tidak berhenti pada model di layar monitor. Mereka mewujudkan desain tersebut menjadi model fisik skala penuh menggunakan tanah liat khusus kelas otomotif.
Langkah ini memungkinkan desainer melihat bentuk mobil secara nyata dari berbagai sudut pandang. Sesuatu yang menurut Mazda tidak dapat direplikasi sepenuhnya oleh tampilan digital.
Aspek paling krusial bagi mereka adalah bagaimana cahaya berinteraksi dengan permukaan bodi mobil.
Permukaan mobil mungkin terlihat sempurna di layar komputer. Namun, begitu dibentuk secara fisik dan ditempatkan di bawah pencahayaan dunia nyata, hasilnya bisa berbeda.
Ketidaksempurnaan pada lekukan atau transisi permukaan menjadi jauh lebih terlihat. Inilah yang menjadi alasan utama Mazda tetap menggunakan tanah liat.
Metode ini memungkinkan mereka menyempurnakan setiap kurva dan garis sebelum masuk ke produksi massal, memastikan estetika Kodo yang menjadi identitas brand tetap terjaga.