MATARAM — Sebanyak 200 lebih peserta dari PW NU NTB, Muhammadiyah, NWDI, GP Ansor, hingga perwakilan Ahmadiyah dan MUI NTB memadati Gedung Bir Ali 1, Asrama Haji Mataram, pada Jumat (5/9/2026). Mereka hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar DPW ABI NTB, sebuah forum yang juga dihadiri tokoh Hindu, Konghucu, Kristen, Buddha, dan Katolik melalui PHDI, MATAKIN, PGIW, Permabudhi, dan Dekenat NTB.
Gubernur NTB yang dijadwalkan hadir berhalangan dan diwakili pejabat dari Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi NTB.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB, Dr. Buya M. Subki Sasaki, M.H., menyebut suasana pertemuan itu sebagai "Maulid Mahabbah"—maulid yang diwarnai semangat kasih sayang dan kebersamaan. Menurutnya, kehadiran banyak unsur masyarakat NTB dalam satu forum menjadi pengalaman baru yang patut dijaga.
“Pada momen suci ini, siapa pun kita, dari suku maupun latar belakang apa pun, wajib menjunjung tinggi nilai-nilai luhur moral serta bahu-membahu membangun negara dan daerah kita, terutama NTB,” ujarnya dalam sambutan.
Ia menambahkan, perbedaan tidak seharusnya menjadi pemisah. “Perbedaan tidak boleh memisahkan kita. Mari saling merangkul dan bergandengan tangan demi kebaikan bersama,” katanya.
Dewan Penasihat ABI NTB, Ustadz Hasyim Umar Al Habsyi, mengingatkan bahwa persatuan tidak berhenti pada hubungan antarumat Islam. Menurutnya, hal itu menyangkut cara manusia membangun kehidupan bersama di tengah perbedaan yang ada.
“Kita wajib saling menghormati, menghargai, serta menjunjung tinggi nilai persaudaraan yang tulus antarsesama,” ujarnya.
Ketua DPW ABI NTB, Sayyid Ahmad Muhajir Al Hinduan, mengatakan kegiatan ini merupakan ikhtiar menjaga NTB yang aman dan damai. Ia menegaskan perbedaan suku, ras, agama, maupun keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauhkan diri.
Semangat kebersamaan yang diusung dalam peringatan ini, kata dia, sejalan dengan amanat sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia. Pertemuan di Asrama Haji Mataram tersebut menunjukkan peringatan Maulid dapat melampaui batas komunitas keagamaan—di tengah masyarakat yang mudah terbelah oleh identitas, ratusan peserta justru memilih duduk dalam satu ruangan untuk membicarakan kehidupan bersama. []