MATARAM — Langkah preventif membentengi generasi muda dari paham radikal terus digencarkan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dikpora NTB bersama Tim Densus 88 menggelar Sosialisasi dan Penyuluhan Kepemudaan serta Anti-Teror di SMAN 9 Mataram, Jumat (4/9/2026), yang diikuti tidak kurang dari 1.000 siswa.
Kegiatan ini menyasar pelajar kelas X hingga XII serta para guru dan pembina. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada penguatan wawasan kebangsaan dan kemampuan menyaring berbagai pengaruh yang berpotensi mengarah pada ekstremisme.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kepemudaan Dikpora NTB, H. Tarmidzi, S.Kom., ME., menegaskan bahwa kelompok usia pelajar SMA merupakan periode krusial dalam pembentukan karakter dan pencarian jati diri. Pada fase ini, idealisme dan keberanian sedang tumbuh, sehingga rawan terhadap provokasi.
“Pelajar dan pemuda perlu mendapatkan pemahaman yang memadai agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai paham yang dapat merusak dan memecah belah persatuan bangsa,” ujarnya.
Menurut H. Tarmidzi, edukasi dini menjadi kunci agar generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis. Mereka diharapkan tidak mudah terpancing oleh informasi menyesatkan, baik yang berseliweran di lingkungan sekitar maupun di ruang digital.
Sinergi antara Bidang Kepemudaan Dikpora NTB dengan Densus 88 disebut memiliki peran vital dalam membangun kesadaran akan bahaya terorisme dan paham kekerasan. Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi NTB yang tangguh dan cinta tanah air.
“Usia pelajar SMA merupakan masa produktif dalam pembentukan jati diri. Karena itu, sosialisasi seperti ini diharapkan dapat menjadi benteng bagi para pemuda kita yang nantinya menjadi penerus pembangunan,” kata H. Tarmidzi.
Dia memastikan agenda serupa akan berjalan rutin setiap pekan di berbagai sekolah menengah atas dan kejuruan di Pulau Lombok. Rencananya, jangkauan kegiatan ini juga akan diperluas hingga ke Pulau Sumbawa.
Target jangka panjang dari program ini adalah menyiapkan kader-kader bangsa yang mampu berkontribusi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Melalui pembekalan yang masif, diharapkan tidak ada celah bagi paham radikal untuk tumbuh di kalangan pelajar NTB.