KUALA LUMPUR — Upaya memperluas pasar wisatawan mancanegara membawa pelaku industri pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) ke pasar Malaysia. Sebanyak 12 pengusaha hotel dan biro perjalanan wisata mengikuti kegiatan table top yang menjadi rangkaian dari keikutsertaan NTB dalam MATTA Fair Malaysia 2026.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Dinas Pariwisata NTB, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD), dan asosiasi pariwisata untuk mengenalkan potensi destinasi Lombok dan Sumbawa ke pasar internasional.
Ketua Astindo NTB, Sahlan M. Saleh, menyebut target transaksi Rp30 miliar tersebut tidak hanya berasal dari pertemuan bisnis, tetapi juga dari aktivitas pameran yang berlangsung selama tiga hari. Dari kegiatan business-to-business (B2B), ditargetkan transaksi Rp5 miliar, sementara penjualan di stan pameran ditargetkan mencapai Rp25 miliar.
"Ini adalah upaya kami untuk terus mendorong agar destinasi Lombok dan Sumbawa menjadi destinasi mendunia," tegas Sahlan di sela kegiatan.
Dalam sesi table top, para pelaku usaha memperkenalkan beragam destinasi kepada sekitar 60 calon pembeli atau buyer dari Kuala Lumpur. Sahlan menyebutkan sejumlah destinasi yang baru diketahui agen perjalanan Malaysia, antara lain wisata hiu paus di Sumbawa, lokasi selancar Bangko-Bangko dan Lakey, hingga Desa Wisata Kembang Kuning di Lombok.
"Peserta sangat antusias dan tertarik dengan destinasi yang dipresentasikan karena masih banyak agen dari Malaysia yang belum mengetahui destinasi seperti hiu paus di Sumbawa, lokasi surfing di Bangko-Bangko dan Lakey, Desa Wisata Kembang Kuning, serta gili-gili yang banyak di Lombok," ujarnya.
Malaysia dinilai menjadi pasar strategis karena menyumbang jumlah wisatawan mancanegara tertinggi melalui penerbangan udara ke Lombok. Sahlan menambahkan, potensi Lombok dan Sumbawa dinilai sangat cocok untuk wisatawan asal negeri jiran tersebut.
Langkah promosi ke Malaysia tidak akan menjadi titik akhir. Astindo bersama pemerintah daerah dan pelaku industri berencana memperluas pasar ke sejumlah negara potensial pada 2027.
"Harapan kami tahun 2027 bisa kita melakukan lebih banyak promosi, termasuk ke China, Korea, Eropa dan Amerika," pungkas Sahlan.
Perluasan promosi ini menjadi penting untuk memperkuat posisi Lombok dan Sumbawa sebagai destinasi pariwisata kelas dunia sekaligus membuka peluang pasar yang lebih besar bagi industri pariwisata daerah.