NUSA TENGGARA BARAT — Adobe memperluas kemampuan AI untuk segmen enterprise dengan mengakuisisi Rilo, startup yang didirikan dua insinyur lulusan IIT pada 2025. Melalui kesepakatan ini, Adobe mengintegrasikan kekayaan intelektual Rilo ke dalam produknya, sementara layanan Rilo untuk pelanggan akan dihentikan pasca-akuisisi. Nilai transaksi tidak diungkapkan.
Teknologi Rilo dirancang untuk mengotomatisasi pembuatan, peluncuran, dan pelacakan kampanye pemasaran. Platformnya memungkinkan tim go-to-market menciptakan alur kerja khusus, seperti analisis intelijen kompetitor, repurposing konten, distribusi, hingga analisis panggilan penjualan.
Fungsionalitas ini selaras dengan kebutuhan perusahaan besar yang mulai mengadopsi AI untuk meningkatkan visibilitas merek di platform seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude.
Rilo didirikan oleh Georgi Boby dan Dhruv Jaglan, dua rekan sekelas di Indian Institute of Technology (IIT). Sebelum diakuisisi, startup ini mengantongi pendanaan US$ 1 juta (sekitar Rp 16,5 miliar) dari PeakXV, DeVC, dan Day Zero Ventures dengan valuasi US$ 10 juta (sekitar Rp 165 miliar).
Rahul Gupta, Managing Partner Day Zero Ventures, menyatakan kegembiraannya atas akuisisi ini. "Produk workflow builder mereka jauh melampaui zamannya dan akan sangat bernilai bagi raksasa seperti Adobe dalam meningkatkan pengalaman pelanggan dan produktivitas," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Langkah ini memperkuat portofolio AI Adobe setelah sebelumnya mengakuisisi perusahaan optimasi SEO, Semrush, senilai US$ 1,9 miliar pada tahun lalu. Rahul Mathur dari DeVC menilai teknologi Rilo bisa melengkapi rangkaian produk CX (customer experience) dan marketing suite Adobe, terutama untuk menangani alur kerja kompleks dan memberi visibilitas atas tindakan pelanggan di platform tersebut.
Persaingan di segmen ini kian ketat, dengan kompetitor seperti Canva yang gencar memperluas lini pemasaran lewat akuisisi. Di sisi lain, raksasa teknologi Amazon, Google, dan Meta juga membangun jalur pemasaran bertenaga AI mereka sendiri.
Bagi pengguna enterprise Adobe, integrasi teknologi Rilo berpotensi menghadirkan alat otomasi yang lebih canggih untuk mengelola alur kerja kompleks. Ini menjadi nilai tambah bagi perusahaan yang mengandalkan Adobe Experience Cloud untuk kebutuhan pemasaran.
Adapun bagi startup dan pengembang, akuisisi ini menegaskan bahwa solusi otomasi yang fokus pada efisiensi tim pemasaran menjadi target incaran raksasa teknologi. Dengan ditutupnya layanan Rilo, pelanggannya kini harus mencari alternatif, sementara tim enam orangnya akan bergabung memperkuat lini produk Adobe.