MATARAM — Status awas kekeringan meteorologis kini melanda hampir seluruh kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat. BMKG Stasiun Klimatologi NTB mencatat curah hujan di wilayah itu berada pada kategori rendah, 0–10 milimeter per dasarian, dengan sifat hujan di bawah normal pada Dasarian III Agustus 2026.
Kondisi ini dipicu menguatnya fenomena El Niño yang masuk kategori sangat kuat. Anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 mencapai indeks +2.99, dan BMKG memprediksi kondisi ini bertahan hingga awal 2027.
Monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut menunjukkan rentang sangat panjang, 31–60 hari, hingga kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari di sejumlah titik. Catatan terparah berada di Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang sudah 105 hari tidak diguyur hujan.
Fase Indian Ocean Dipole (IOD) positif berindeks +0.394 turut memperparah kondisi. Aliran massa udara di sebagian besar wilayah Indonesia didominasi angin timuran yang kering, sehingga potensi hujan di seluruh NTB pada Dasarian I September 2026 diprakirakan sangat kecil, di bawah 10 persen.
Forecaster On Duty BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menjelaskan dinamika atmosfer global ini saling memperkuat dan berdampak langsung pada wilayah NTB. “Anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 menunjukkan ENSO berada pada kategori El Niño Sangat Kuat," ujarnya dalam keterangan resmi.
Peringatan dini kekeringan meteorologis level awas menimpa wilayah luas di lima kabupaten dan satu kota. Di Pulau Lombok, status ini melanda Kecamatan Batu Layar, Labu Api, dan Lembar di Lombok Barat; Batukliang, Janapria, Praya Barat, dan Praya Timur di Lombok Tengah; serta Jerowaru, Keruak, Labuhan Haji, Sakra Barat, Sikur, Suela, Sukamulia, Terara, dan Wanasaba di Lombok Timur.
Status serupa juga berlaku di Gangga dan Tanjung (Lombok Utara). Di Pulau Sumbawa, level awas mencakup Jereweh, Poto Tano, dan Taliwang di Sumbawa Barat; Batulanteh, Labuhan Badas, Lape, Moyo Utara, Sumbawa, dan Unter Iwes di Sumbawa; Kilo, Manggalewa, Pajo, dan Woja di Dompu; Bolo, Donggo, Lambitu, Soromandi, dan Wera di Bima; serta Raba dan Asakota di Kota Bima.
Level siaga ditetapkan di Kota Mataram serta belasan kecamatan lain yang tersebar di delapan kabupaten. Sementara level waspada terdeteksi di Bayan (Lombok Utara), Pringgabaya dan Sambelia (Lombok Timur), serta Sanggar dan Monta (Bima).
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah menghemat pemakaian air untuk mengantisipasi krisis air bersih yang meluas. Kewaspadaan tinggi juga diperlukan terhadap ancaman kebakaran hutan, lahan, dan permukiman dengan tidak membakar sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.