PAUD Ramah Anak: Ciri Lingkungan Belajar yang Aman dari Kekerasan dan Perundungan

Penulis: Mardian Syah  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 23:07:32 WIB
Suasana kegiatan belajar mengajar di dalam ruang kelas PAUD yang menerapkan konsep ramah anak di Nusa Tenggara Barat.

NUSA TENGGARA BARAT — Memilih PAUD pertama untuk buah hati adalah momen yang membahagiakan sekaligus mencemaskan. Ibu pasti bertanya-tanya, apakah si kecil akan aman dan betah di sana. Rasa cemas ini wajar, karena anak usia dini tidak hanya butuh diajarkan calistung, tetapi juga perlu tumbuh di lingkungan yang sehat dan bebas dari perundungan.

Hal ini sejalan dengan penegasan dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali. Mereka mengingatkan bahwa layanan PAUD yang baik harus mampu memastikan anak terlindungi dari kekerasan, sehingga tumbuh kembangnya optimal.

Apa Itu PAUD Holistik Integratif?

Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKPLK) Disdikpora Provinsi Bali, Made Vitri Apsari, menjelaskan bahwa pengembangan anak usia dini harus dilakukan secara utuh. Artinya, kebutuhan dasar anak tidak bisa dipenuhi setengah-setengah oleh lembaga PAUD.

Vitri menekankan bahwa kebutuhan anak mencakup banyak aspek penting sekaligus. Layanan yang diberikan harus mencakup pendidikan, kesehatan, kecukupan gizi, pengasuhan, hingga perlindungan dari kekerasan.

Kebutuhan Utama Anak di Lembaga PAUD

Menurut Vitri, anak usia dini tidak hanya membutuhkan kesempatan belajar yang baik. Ada beberapa kebutuhan dasar lain yang wajib dipenuhi agar ia tumbuh menjadi generasi yang sehat dan cerdas.

  • Kesehatan yang terjaga dan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan fisik dan otak.
  • Pengasuhan penuh kasih sayang yang membuat anak merasa dihargai dan aman secara emosional.
  • Perlindungan nyata dari kekerasan fisik maupun perundungan di lingkungan sekolah.
  • Lingkungan yang aman dan mendukung eksplorasi serta rasa ingin tahunya.

Sinergi untuk Menciptakan PAUD Berkualitas

Untuk mewujudkan semua itu, dibutuhkan kerja sama yang erat. Vitri menyebut pendekatan PAUD HI bersifat holistik yang melihat kebutuhan anak secara menyeluruh, serta integratif yang menekankan kolaborasi berbagai pihak.

Pihak sekolah saja tidak cukup. Dibutuhkan peran aktif orang tua, tenaga pendidik, dan juga pemerintah setempat. Sosialisasi kebijakan ini diharapkan bisa diterjemahkan menjadi program nyata hingga tingkat desa dan kelurahan.

Saat ibu melihat PAUD yang aktif bekerja sama dengan puskesmas untuk imunisasi, atau mengadakan kelas parenting, itu adalah contoh sinergi yang baik. Lembaga seperti ini sedang berusaha mewujudkan layanan yang sehat, aman, ramah anak, dan berkualitas.

Reporter: Mardian Syah
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top