MATARAM — Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menegaskan bahwa peringatan hari ulang tahun ke-33 bukan sekadar seremoni, melainkan ruang evaluasi atas perjalanan kota yang kini berstatus ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, setiap kebijakan yang diwariskan pemimpin sebelumnya merupakan investasi yang harus dijaga dan dilanjutkan.
"Usia 33 tahun ini momentum untuk mengoreksi kekurangan yang perlu dibenahi," jelas Mohan di Mataram, Senin (31/8/2026). Ia mengakui masih ada pekerjaan rumah yang harus diperbaiki bersama, tetapi optimisme masyarakat terhadap masa depan kota tetap tumbuh.
Perjalanan Kota Mataram dimulai sebagai kota administratif pada 1993. Saat itu kemandirian fiskal masih rendah dan sangat bergantung pada transfer pemerintah pusat. Namun, seiring transformasi ekonomi, sektor jasa dan perdagangan tumbuh pesat. Rentang 2000-2020 PAD mencapai Rp350 miliar lebih.
Setelah ditetapkan sebagai kawasan Meeting, Incentives, Convention and Exhibition (MICE), investasi terus berdatangan. PAD melonjak drastis menjadi Rp656 miliar pada 2026. Wali Kota menilai pertumbuhan ini sejalan dengan adaptasi masyarakat yang cepat terhadap perubahan.
"Kami melihat bahwa kesiapan masyarakat sangat adaptif dengan perubahan," ujarnya.
Sebagai pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, pemerintahan, hingga hiburan, Mataram menghadapi sejumlah persoalan perkotaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka mencapai 4,80 persen pada 2025. Adapun kemiskinan ekstrem tercatat 1,09 persen.
Pemkot Mataram menargetkan kemiskinan ekstrem turun menjadi 0 persen pada 2029. Upaya ini menjadi salah satu prioritas pembangunan sosial di tengah konsentrasi aktivitas yang tinggi di jantung kota.
Mohan menekankan pentingnya menjaga harmoni di tengah potensi polarisasi identitas. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk fokus pada persamaan, bukan perbedaan yang bisa melemahkan kohesi sosial.
"Paling penting melihat persamaan bukan perbedaan dimunculkan membuat saling menjauhi untuk melemahkan kohesi sosial itu," tegasnya.
Ia menambahkan, praktik sosial yang baik harus dirawat melalui kesepakatan bersama. Kota Mataram, kata dia, tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga berkembang dalam gagasan dan cara berpikir warganya. Hal inilah yang menjadikan Mataram sebagai "rumah nyaman untuk ditinggali semua orang" dan tempat generasi muda meraih mimpi.