DOMPU — Abdul Muis, kolomnis yang tulisannya rutin dimuat di Portal Berita Online Dompu, menilai bahwa kekuatan terbesar dalam dunia ini bukanlah uang atau kekuasaan, melainkan cara berpikir. Ia menyebut keduanya hanyalah alat yang hasilnya sangat ditentukan oleh pola pikir manusia yang memegangnya.
"Ada orang yang memiliki banyak uang, tetapi tidak tahu untuk apa kekayaannya digunakan. Ada pula orang yang memiliki kekuasaan, tetapi tidak tahu ke mana harus membawa orang-orang yang dipimpinnya," tulis Abdul Muis dalam artikelnya.
Dalam uraiannya, Abdul Muis menjelaskan bahwa tenaga telah digunakan manusia sejak dahulu untuk bertahan hidup, bekerja, membangun, dan menghasilkan sesuatu. Namun, kemajuan peradaban tidak terjadi semata-mata karena manusia menjadi lebih kuat secara fisik.
Peradaban justru berkembang ketika manusia mulai berpikir dan menemukan cara agar pekerjaan berat menjadi lebih ringan, perjalanan jauh menjadi lebih cepat, atau mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Perbedaan mendasarnya sederhana: tenaga membuat manusia mampu melakukan sesuatu, sementara pikiran membuat manusia bertanya apakah ada cara yang lebih baik.
Abdul Muis juga mengamati dua tipe manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, mereka yang bertanya "apa yang harus saya lakukan?" dan kedua, mereka yang bertanya "mengapa saya harus melakukan itu?".
Menurutnya, orang pertama cenderung mencari instruksi, sedangkan orang kedua mencari pemahaman. Ia menegaskan bahwa aturan tetap diperlukan, tetapi masyarakat akan sulit berkembang apabila semua orang hanya menerima sesuatu tanpa pernah mempertanyakan alasannya.
"Berpikir berarti berani memeriksa informasi, alasan, keyakinan sendiri, bahkan sesuatu yang selama ini kita anggap benar," jelasnya.
Ia juga menyoroti kondisi saat ini di mana manusia tidak lagi kekurangan informasi. Setiap hari, berbagai informasi datang melalui telepon genggam, media sosial, berita, dan video. Namun, mengetahui sesuatu berbeda dengan memahami sesuatu.
Kemampuan berpikir menjadi semakin penting bukan untuk merasa lebih pintar dari orang lain, tetapi agar seseorang tidak mudah dibawa oleh pikiran orang lain. Ia memberi contoh dua orang yang melihat peristiwa sama dapat menghasilkan kesimpulan berbeda karena cara pandang mereka berbeda.
"Seseorang melihat kegagalan sebagai akhir, orang lain melihatnya sebagai pelajaran. Seseorang melihat kritik sebagai serangan, orang lain melihatnya sebagai kesempatan memperbaiki diri," tulisnya.
Terakhir, Abdul Muis menolak anggapan bahwa gagasan besar hanya lahir dari tempat besar seperti Jakarta. Menurutnya, sebuah gagasan tidak mengenal alamat. Seseorang yang tinggal di kota kecil seperti Dompu pun dapat memiliki pemikiran yang berjalan jauh.
"Justru terkadang jarak dari pusat memberikan sudut pandang yang berbeda. Kita bisa melihat sesuatu tanpa terlalu larut dalam hiruk-pikuk pusat perhatian," ujarnya.
Ia menutup tulisannya dengan ajakan bahwa salah satu investasi terbesar dalam hidup bukan hanya soal memperoleh uang atau kedudukan, tetapi bagaimana memperbaiki cara berpikir. Dari tempat yang jauh dari pusat itulah, pertanyaan-pertanyaan yang tidak banyak ditanyakan bisa muncul.