NUSA TENGGARA BARAT — Nilai tersebut mencakup ekspor batu bara yang mencapai USD30,35 miliar, minyak sawit mentah (CPO) senilai USD22,67 miliar, dan ferro alloy sebesar USD16,43 miliar. Dengan total tersebut, DSI mengelola hampir separuh nilai ekspor komoditas unggulan Indonesia yang selama ini tercatat dalam neraca perdagangan.
"Peluncuran PT Danantara Sumber Daya Indonesia ini adalah babak baru dalam tata kelola ekspor sumber daya alam Indonesia," kata Rosan dalam peluncuran DSI di Jakarta, Senin (24/8).
Keputusan menjadikan batu bara sebagai komoditas pertama masuk akal secara bisnis. Batu bara masih menjadi penyumbang devisa terbesar dengan pangsa lebih dari 43% dari total nilai kelolaan DSI. Sementara CPO dan ferro alloy melengkapi portofolio sebagai komoditas dengan rantai nilai turunan yang sedang dikembangkan pemerintah.
Dengan adanya DSI, seluruh alur transaksi ekspor tiga komoditas ini akan memiliki standar tunggal. Hal ini memudahkan pengawasan harga, volume, hingga tujuan pengiriman. Bagi pelaku bisnis, kehadiran DSI berarti ada satu counterparty besar yang menjadi pintu masuk utama ekspor komoditas tersebut.
Implikasinya terhadap pasar domestik patut dicermati. Perusahaan tambang dan perkebunan yang selama ini menjual langsung ke pembeli luar negeri kemungkinan besar akan berinteraksi dengan DSI sebagai perantara resmi. Perubahan rantai distribusi ini berpotensi mengubah arus kas dan margin operasional perusahaan-perusahaan komoditas di Indonesia.
Selama ini, sebagian devisa hasil ekspor cenderung mengendap di luar negeri. Dengan pengelolaan terpusat, pemerintah dapat memastikan aliran valas masuk ke dalam negeri lebih cepat, yang pada akhirnya mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Bagi investor pasar modal, kabar ini menjadi sentimen positif bagi saham-saham emiten komoditas berkapitalisasi besar. Namun, perlu dicermati bagaimana skema kerja sama antara DSI dengan emiten seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) atau PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akan dituangkan. Investor biasanya merespons positif jika skema tersebut tidak memangkas margin secara signifikan.
Rosan belum merinci target volume ekspor pada tahun pertama operasi. Namun dengan nilai kelolaan yang mencapai hampir USD70 miliar, DSI berpotensi masuk dalam jajaran trader komoditas global terbesar di Asia Tenggara.
Pelaku usaha yang selama ini bergantung pada ekspor langsung ketiga komoditas tersebut disarankan memantau regulasi turunan yang akan diterbitkan dalam beberapa pekan mendatang. Ketentuan mengenai kontrak jangka panjang dan mekanisme penetapan harga akan menentukan daya saing industri di tingkat global.