MATARAM — Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal mendorong sekolah-sekolah menjadi garda depan ketahanan pangan lewat program tanam cabai. Langkah ini tidak hanya menyasar aspek edukasi, tetapi juga membangun ekosistem agribisnis sejak usia dini.
Sebanyak 61 guru dari berbagai sekolah di Pulau Lombok mengikuti pelatihan teknis budidaya cabai. Mereka akan menjadi pendamping langsung bagi siswa di masing-masing sekolah.
“Hari ini ada 61 guru yang mengikuti pelatihan budidaya cabai. Mereka nantinya menjadi pendamping di sekolah untuk memberikan edukasi kepada para siswa mengenai teknik budidaya cabai,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, seusai menyerahkan bantuan bibit.
Setelah pelatihan, para guru akan menerima bibit cabai dalam bentuk semaian untuk dibagikan kepada siswa baru. Setiap siswa bertanggung jawab merawat tanaman dari polybag atau lahan sekolah hingga masa panen.
Kepala SMKPP Negeri Mataram, Sugiarta, M.Pd., menyebutkan bibit disiapkan di tiga lokasi: Kota Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Timur. Untuk Pulau Sumbawa, pusat pembibitan berada di SMKPP Bima. “Bibit ini kami siapkan untuk dibagikan kepada seluruh sekolah, mulai dari SMP, SMA hingga SLB,” jelasnya.
Distribusi dijadwalkan mulai pekan kedua pelaksanaan program, bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Data Dinas Pertanian mencatat produksi cabai NTB pada 2025 mencapai 74 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi daerah hanya 36 ribu ton. Surplus ini menjadikan NTB sebagai salah satu pemasok utama cabai nasional.
Mirza menyebutkan potensi keuntungan budidaya cabai sangat besar. “Kalau budidaya dilakukan dengan baik, keuntungan per hektare dalam satu siklus bisa mencapai sekitar Rp550 juta dengan asumsi harga acuan pemerintah sekitar Rp33 ribu per kilogram,” paparnya.
Program ini dirancang tidak berhenti pada satu kali panen. Sekolah didorong melakukan pembibitan ulang dan penanaman secara berkelanjutan. SMKPP Negeri Mataram bahkan berencana membentuk forum budidaya cabai sebagai wadah kolaborasi antarsekolah.
Sugiarta menambahkan, konsep “pertanian masuk sekolah” juga akan diterapkan di pondok pesantren. Sekolah di perkotaan diarahkan menerapkan urban farming menggunakan polybag, sementara sekolah dengan lahan luas bisa memanfaatkan kebun.
“Ketahanan pangan harus dibangun mulai dari sekolah. Anak-anak nantinya akan membawa pengetahuan itu ke rumah dan diharapkan mampu mengajak bahkan membimbing orang tua mereka untuk ikut menanam,” ujarnya.