MATARAM — Stasiun Klimatologi NTB mencatat, durasi hari tanpa hujan (HTH) terpanjang mencapai 53 hari, tepatnya di Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima. Kondisi ini memicu BMKG untuk memperluas zona waspada yang kini mencakup wilayah dari Lombok Barat hingga Bima.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Cakra Mahasurya, meminta warga untuk menggunakan air bersih secara bijak. "Kami harap masyarakat dapat menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi krisis air bersih," ujarnya, Minggu (12/7/2026).
Berikut daftar kecamatan yang masuk dalam status waspada kekeringan meteorologi:
Berdasarkan pemantauan curah hujan pada dasarian I Juli 2026, seluruh wilayah NTB berada pada kategori rendah, berkisar 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi hanya tercatat 5 milimeter per dasarian di Pos Hujan Lambu, Kabupaten Bima.
Kondisi ini dipicu oleh penguatan El Nino dengan indeks +1,69 di wilayah Nino3.4. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) masih netral dengan indeks minus 0,36, namun diprediksi beralih ke fase positif mulai Agustus hingga Desember 2026.
Selain krisis air bersih, BMKG juga mewanti-wanti potensi kebakaran hutan, lahan, dan pemukiman. Cakra mengimbau warga tidak membakar sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan selama musim kemarau ini.
Masyarakat di 10 kecamatan rawan kekeringan diminta untuk mulai menampung air hujan dan memanfaatkan sumber air alternatif secara efisien. Pemerintah daerah setempat juga diharapkan segera menyiapkan pasokan air bersih darurat jika krisis berlanjut.