NUSA TENGGARA BARAT — Penguatan ini menjadi sinyal positif di tengah tekanan global yang masih membayangi mata uang emerging market. Pergerakan rupiah pagi ini dipicu oleh sentimen pelaku pasar yang mulai memproyeksikan sikap dovish bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dalam waktu dekat.
Pelaku pasar modal dan valas merespons data ekonomi AS yang mulai menunjukkan perlambatan. Indikator ketenagakerjaan dan inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuannya pada semester kedua 2025.
Ekspektasi ini membuat indeks dolar AS (DXY) tertekan, sehingga memberikan ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk menguat. Selain itu, kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia (SBN) pagi ini turut menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.
Meski menguat, level Rp17.859 per dolar AS masih tergolong rapuh. Para analis mencatat bahwa rupiah masih berada di dekat level psikologis Rp18.000 yang sempat disentuh pada pekan lalu. Intervensi Bank Indonesia (BI) melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan operasi moneter di pasar obligasi dinilai menjadi bantalan utama yang mencegah pelemahan lebih dalam.
Ke depannya, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada rilis data inflasi inti AS (Core PCE) pekan depan serta keputusan suku bunga The Fed pada awal Mei 2025. Jika The Fed benar-benar memberikan sinyal pemangkasan suku bunga, rupiah berpotensi melanjutkan penguatan menuju level Rp17.700-Rp17.800.
Namun, risiko tetap ada. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan data impor China yang lesu masih bisa memicu aksi jual aset berisiko secara tiba-tiba. Investor dan pelaku bisnis disarankan mencermati pergerakan yield US Treasury sebagai indikasi utama perubahan sentimen global.
Investasi mengandung risiko.