Krisis Air Bersih di Gili Meno Belum Teratasi, Kunjungan Wisatawan NTB Disebut Tetap Tinggi di Musim Liburan

Penulis: Jefri Siahaan  •  Senin, 25 Mei 2026 | 23:37:01 WIB
Krisis air bersih di Gili Meno masih berlangsung meski kunjungan wisatawan meningkat pada musim liburan.

MATARAM — Krisis air bersih yang melanda Gili Meno sejak dua tahun lalu belum menyurutkan minat wisatawan berkunjung ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia, menyebutkan angka kunjungan justru menunjukkan peningkatan karena kawasan tiga gili tengah memasuki musim liburan tinggi.

“Ini kan mulai memasuki high session mereka ini kan,” ujar Aulia di Grand Madani Hotel, Senin (25/5/2026).

Meski demikian, ia mengakui persoalan air bersih di Gili Meno sudah menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi NTB. Sebab, air merupakan infrastruktur dasar yang vital bagi masyarakat maupun wisatawan.

Satgas Dibentuk, tapi Realisasi Masih Terganjal Anggaran

Pada 2025 lalu, Pemprov NTB membentuk satuan tugas (Satgas) khusus untuk menangani persoalan di tiga gili. Fokus kerja Satgas mencakup tiga bidang: penyelesaian status lahan, penanganan lingkungan, serta penguatan infrastruktur dasar seperti air bersih dan pengelolaan sampah.

Namun, Aulia mengakui penanganan masalah air bersih tidak bisa dilakukan secara instan. Salah satu kendalanya adalah kewenangan pengelolaan air bersih berada di tangan pemerintah kabupaten. Selain itu, lokasi Gili Meno yang terisolasi dari daratan utama membuat distribusi air bersih menjadi tantangan tersendiri.

“Untuk air ini tentu harus ada koordinasi dengan pemerintah kabupaten karena itu memang ranah mereka,” katanya.

Warga Tolak Sistem SWRO, Khawatir Rusak Terumbu Karang

Belakangan, warga Dusun Gili Meno kembali melakukan aksi unjuk rasa. Mereka menolak rencana penyediaan air bersih melalui mitra swasta, PT Tiara Cipta Nirwana (TCN), yang menggunakan sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Penolakan ini didasari pengalaman di Gili Trawangan. Data Balai Kawasan Konservasi Nasional (BKKN) Kupang mencatat kerusakan terumbu karang jenis blue coral di kawasan tersebut mencapai panjang 1,6 kilometer dan lebar 200 meter. Warga khawatir sistem serupa akan mengulangi dampak lingkungan yang sama di Gili Meno.

Pasokan Air dari Darat Jadi Solusi Sementara

Saat ini, sebagian warga dan pelaku usaha wisata di Gili Meno masih mengandalkan pembelian air dari daratan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemerintah Provinsi NTB menilai solusi tersebut hanya bersifat jangka pendek dan tidak berkelanjutan.

“Harapan adanya air secara berkelanjutan memang sudah menjadi kebutuhan utama sebuah destinasi wisata,” harap Aulia.

Ia menambahkan, kebutuhan air otomatis akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan. “Kalau kunjungan meningkat, kebutuhan air juga semakin tinggi. Karena itu layanan air bersih harus berkelanjutan agar pelayanan kepada wisatawan tetap terjaga,” jelasnya.

Pemprov NTB menyatakan Satgas telah melakukan pemetaan persoalan dan menyiapkan langkah penanganan. Namun, realisasi program masih membutuhkan dukungan pembiayaan dan kesiapan teknis di lapangan.

Reporter: Jefri Siahaan
Sumber: suarantb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top