SUMBAWA BESAR — Dari total 281 pulau kecil di NTB, sebanyak 38 pulau telah berpenghuni dan menyimpan kerentanan tinggi terhadap bencana alam. Fakta inilah yang mendorong FPRB NTB dan Pemkab Sumbawa untuk menyelesaikan kajian ketangguhan di tiga pulau kecil di kawasan strategis SAMOTA (Saleh, Moyo, Tambora).
Ketua FPRB NTB, Rahmat Sabani, menyebut kajian ini merupakan respons atas karakteristik geografis NTB yang unik sekaligus rawan. "Harus ada upaya nyata dan terstruktur dari pemerintah untuk menyelamatkan penduduk di pulau-pulau kecil ini ketika terjadi bencana. Pola pembangunan daerah sudah saatnya berbasis pada karakteristik pulau kecil," ujarnya dalam kegiatan diseminasi.
Program ini bukan yang pertama. FPRB NTB telah menginisiasi kajian serupa sejak 2023 di tiga gili eksotis Lombok Utara: Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Setelah pemetaan ketangguhan di Lombok rampung, program berlanjut ke Kabupaten Sumbawa sejak 2025 dengan lokus Pulau Bungin, Pulau Medang, dan Pulau Moyo.
Rahmat menjelaskan, aspirasi pembangunan berbasis pulau kecil telah direspons positif oleh pemda dan mulai diakomodasi dalam Musrenbang. "Kajian ini sangat penting untuk diangkat menjadi kebijakan afirmasi di tingkat provinsi," tambahnya.
Aspek keselamatan di pulau-pulau kecil tidak bisa dilepaskan dari sektor ekonomi andalan Sumbawa: pariwisata. Kawasan SAMOTA tengah didorong menjadi destinasi kelas dunia. Rahmat menegaskan, jika sistem keselamatan tidak dikelola baik, citra pariwisata daerah bisa tercoreng di mata internasional.
"Sangat penting bagi kita untuk membangun sistem ketangguhan di kawasan SAMOTA agar para wisatawan yang datang berkunjung merasa aman dan nyaman," tegasnya.
Kepala Desa Labuan Aji di Pulau Moyo, Sofyan, menyampaikan aspirasi masyarakat kepulauan. Menurutnya, pulau-pulau kecil menyimpan potensi ekonomi, perikanan, dan pariwisata yang besar, namun harus ditopang rasa aman.
"Kami ingin hasil kajian ini menjadikan masyarakat tangguh dalam arti luas; tangguh dalam sistem ekonomi, tangguh secara sosial, dan tangguh dalam menghadapi kebencanaan. Rekomendasi di dalam kajian ini harus segera ditindaklanjuti," kata Sofyan.
Kepala BPBD Kabupaten Sumbawa, Muhammad Nurhidayat, menyambut baik dokumen hasil kajian tersebut. Pihaknya memastikan kajian ini akan dijadikan pijakan utama dalam menyusun kebijakan strategis ke depan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Diseminasi ini menjadi langkah awal agar rekomendasi kajian tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan berujung pada aksi nyata di lapangan. Masyarakat di tiga pulau kecil Sumbawa menunggu realisasi program-program ketangguhan yang dijanjikan.