Mataram – Masyarakat Nusa Tenggara Barat perlu tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem hingga awal Mei 2026 meskipun musim kemarau telah dimulai. Prakiraan BMKG menunjukkan kondisi atmosfer di wilayah ini masih didominasi pola transisi dari musim hujan ke musim kemarau, dengan frekuensi hujan yang cukup sering terjadi di sebagian besar daerah.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB menyatakan bahwa peluang curah hujan di atas 50 milimeter per dasarian mencapai 80 hingga lebih dari 90 persen dan tersebar merata di hampir seluruh wilayah NTB. Angka ini mencerminkan ketidakstabilan cuaca yang masih tinggi di tengah transisi musiman.
Potensi hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian diperkirakan mencapai 60 sampai 90 persen, terutama di hampir seluruh wilayah Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Sumbawa. Data dari Pos Hujan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, mencatat curah hujan tertinggi sebesar 277 milimeter per dasarian pada periode 21–30 April 2026, membuktikan intensitas hujan yang masih sangat tinggi di akhir April.
Meskipun sebagian wilayah NTB telah memasuki periode musim kemarau sejak April 2026, pola cuaca belum sepenuhnya kering. Sebagian daerah justru masih berada dalam fase pancaroba atau periode transisi dari musim hujan ke musim kemarau, yang menjadi fase kritis dengan ketidakstabilan cuaca tinggi.
Monitoring hari tanpa hujan berturut-turut masih menunjukkan kategori sangat pendek, berkisar antara satu hingga lima hari. Kondisi ini menandakan frekuensi hujan cukup sering terjadi di sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat, sehingga kesempatan terjadinya hujan dalam setiap harinya masih sangat besar.
Kondisi iklim global dan regional saat ini masih relatif netral. Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kategori netral dan diperkirakan bertahan hingga pertengahan tahun 2026. Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 menunjukkan kondisi ENSO netral dengan potensi berkembang menuju El Nino pada periode Mei hingga Juli 2026.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif serta dominasi angin timuran turut mempengaruhi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk NTB. Anomali suhu muka laut di sebagian besar perairan Indonesia berada dalam kondisi normal hingga hangat, sementara wilayah perairan selatan Jawa, Bali, dan NTB cenderung lebih dingin, mendukung pembentukan sistem cuaca yang lembab.
BMKG mengimbau masyarakat NTB untuk selalu waspada terhadap potensi kejadian cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologis. Dengan peluang hujan tinggi dan intensitas signifikan, risiko banjir dan longsor tetap menjadi ancaman nyata hingga awal Mei 2026. Diperlukan kesiapan dan monitoring berkelanjutan dari berbagai pihak untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem bagi komunitas lokal.