NUSA TENGGARA BARAT — Keputusan itu disampaikan Astrio dalam program Rakyat Bersuara bertajuk "Suara Mahasiswa: Menguji Fakta, Menjaga Harapan" pada Rabu (17/6/2026) malam. Ia menegaskan, langkah ini berbeda dengan sejumlah negara lain yang langsung menaikkan harga BBM sejak perang pecah pada Februari lalu.
Tekanan Fiskal dan Pilihan Politik yang Berani
"Tapi hari ini pemerintah mengambil juga keputusan politik yang amat berani untuk berpihak kepada rakyat, salah satunya adalah dengan tetap menahan harga BBM subsidi agar tetap tidak naik," kata Astrio dalam acara tersebut.
Menurutnya, kebijakan ini diambil di tengah tantangan eksternal berupa geopolitik yang menyebabkan tekanan fiskal. Namun, pemerintah memilih untuk tidak membebani masyarakat dengan kenaikan harga energi.
PR Tata Kelola yang Masih Harus Dibenahi
Meski mengapresiasi langkah tersebut, Astrio juga mengakui masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Ia menyatakan kesiapan untuk mendengarkan masukan dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa.
"Tapi kita juga punya PR Bung Aiman, kita di sini siap untuk mendengarkan, menerima masukan, dan juga agar ke depannya kita bisa memperbaiki tata kelola dan kekurangan-kekurangan kita agar semua program ini bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ujarnya.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun harga BBM subsidi tidak naik, pemerintah tetap terbuka terhadap evaluasi agar subsidi tepat sasaran.
Daya Beli Masyarakat Jadi Prioritas Utama
Langkah menahan harga BBM subsidi dinilai sebagai upaya konkret menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok. Kebijakan ini juga diharapkan bisa menahan laju inflasi yang kerap dipicu oleh fluktuasi harga energi.
Dengan tidak naiknya harga BBM subsidi, masyarakat kelas menengah ke bawah masih bisa mengakses bahan bakar dengan harga terjangkau. Hal ini menjadi penting mengingat BBM subsidi masih menjadi komoditas vital bagi sebagian besar pengguna kendaraan di Indonesia.