MATARAM — Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal menekankan bahwa visi NTB Makmur Mendunia bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Dalam berbagai kesempatan, ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh membuat masyarakat tercerabut dari sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang membentuk jati diri mereka.
“Mendunia bukan berarti menjadi seperti orang lain. Mendunia adalah ketika dunia datang untuk mengenal siapa kita sebenarnya,” kata Iqbal dalam pernyataan yang dikutip dari bahan diskusi kebudayaan beberapa waktu lalu.
Apa Saja Pilar Pemajuan Kebudayaan NTB?
Dinas Kebudayaan NTB saat ini sedang mengerjakan sejumlah dokumen strategis. Selain pemutakhiran Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), pemerintah juga menyusun Haluan Pemajuan Kebudayaan NTB 2045, Road Map Pemajuan Kebudayaan, Rencana Aksi, hingga rancangan Peraturan Gubernur tentang Pemajuan Kebudayaan.
Seluruh instrumen ini diarahkan agar kebudayaan tidak berhenti pada pelestarian semata. “Kebudayaan harus hadir sebagai kekuatan pembangunan. Ia harus menjadi sumber kreativitas, pendidikan, ekonomi, karakter, sekaligus diplomasi daerah,” demikian bunyi narasi dalam bahan diskusi yang diterima redaksi.
Mengapa Identitas Lokal Jadi Kunci?
NTB memiliki warisan peradaban yang lengkap: dari Gunung Rinjani yang sarat narasi spiritual, jejak letusan Samalas yang dipelajari ilmuwan dunia, Kota Tua Ampenan sebagai simbol keterbukaan antarbangsa, hingga masyarakat adat Bayan yang masih menjaga tradisi berabad-abad. Semua itu, menurut pemerintah daerah, adalah modal peradaban yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Gubernur Iqbal kerap membandingkan dengan Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara itu mendunia justru karena keunikan budayanya, bukan karena meniru pihak lain. “Peradaban tidak dibangun hanya melalui jalan raya, gedung, dan infrastruktur. Peradaban dibangun melalui gagasan, nilai, dan pengalaman bersama,” tulis Muhamad Ihwan dalam artikel opini yang menjadi bahan diskusi ini.
Islam dan Tradisi Lokal sebagai Fondasi
Sejak berabad-abad, Islam tidak hanya menjadi agama mayoritas di NTB, tetapi juga membentuk cara hidup, nilai sosial, seni tradisi, hingga tata hubungan manusia dengan alam. Nilai-nilai itu hidup dalam tradisi masyarakat Sasak, Tau Samawa, serta warisan Kesultanan Bima dan Dompu.
Predikat Serambi Al-Qur’an yang melekat pada NTB, menurut pemerintah, bukan sekadar simbol religius. Ia adalah cerminan bagaimana Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan sosial dan kebudayaan daerah. Namun tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menjaga budaya tetap ada, melainkan memastikan budaya tetap relevan dan berfungsi sebagai sumber inovasi serta kesejahteraan bagi generasi muda.