MATARAM — Usaha ayam petelur di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, berjalan dengan populasi 1.000 ekor. Pemerintah desa mengelola langsung usaha itu dengan dukungan anggaran Rp300 juta untuk pembangunan kandang, pembelian ayam pullet, dan pakan.
Capaian serupa muncul di dua desa lain di Lombok. Usaha 1.000 ekor ayam petelur yang dikelola BUMDes Desa Kalijaga, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, mencatat persentase produksi 74 persen. Di Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, usaha dengan populasi sama dilaporkan berproduksi di atas 70 persen dan telurnya dipasarkan lewat pengepul.
Perkembangan usaha tidak seragam. Di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, usaha 500 ekor ayam petelur yang dikelola BUMDes baru mencapai persentase produksi 10 persen. Usaha itu didukung anggaran Rp132,958 juta, dengan sisa alokasi dialihkan untuk pengembangan usaha bertema pariwisata.
Selain ayam petelur, sejumlah desa mengembangkan peternakan sapi. Desa Kumbang memelihara 12 ekor sapi jenis Limousin dan Simmental melalui kerja sama pemerintah desa dengan peternak memakai sistem bagi hasil.
Desa Jagaraga, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat, menjalankan usaha penggemukan sapi dengan anggaran Rp300 juta yang dikelola BUMDes.
Skema Desa Berdaya Transformatif menyasar keluarga miskin ekstrem di Desa Lendang Nangka Utara, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur. Pendanaannya berasal dari tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR Otoritas Jasa Keuangan.
Setiap keluarga sasaran memperoleh bantuan senilai Rp7 juta berupa 32 ekor ayam petelur, kandang, serta pakan untuk dua bulan. Bantuan dirancang sebagai modal usaha produktif untuk menambah pendapatan keluarga.
Peninjauan lapangan dilakukan pada 14 Oktober 2026. Petugas mengamati kondisi ayam dan kandang, disertai diskusi soal pemeliharaan ternak. Pendampingan dinilai penting agar keluarga penerima mampu merawat ternak dan menjaga keberlanjutan manfaat bantuan.
Riadi menegaskan bahwa usaha yang sudah dibangun harus terus dijaga dan dikembangkan. Menurutnya, keberlanjutan program bergantung pada komitmen pemerintah desa dan penerima manfaat.
"Perkembangan usaha peternakan dalam Program Desa Berdaya sejauh ini menampakkan hasil yang menggembirakan. Kami berharap usaha yang telah direalisasikan ini terus dijaga, dikelola, dan dikembangkan dengan baik oleh pemerintah desa bersama para penerima manfaat," kata Riadi, Selasa (20/10/2026).
Ia menambahkan bahwa pengelolaan konsisten, pendampingan berkelanjutan, dan komitmen meningkatkan produktivitas akan menentukan apakah usaha itu tumbuh dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Program Desa Berdaya dijalankan lewat skema tematik dan transformatif. Selain memperkuat ekonomi desa, program ini mendorong perubahan perilaku penerima manfaat agar semakin mandiri mengelola usaha.
Ukuran keberhasilan program tidak berhenti pada besarnya anggaran atau jumlah ternak yang disalurkan. Yang lebih mendasar adalah kemampuan desa dan penerima manfaat menjaga usaha tetap berjalan, menaikkan produktivitas, serta membangun kemandirian ekonomi keluarga.