MATARAM — Ketua ASTINDO NTB Sahlan M Saleh menyerahkan sekenem kepada pengelola Kampung Adat Sade, disaksikan Asisten II Setda NTB yang juga koordinator pemulihan Sade, Lalu Moh. Faozal. Bantuan itu dihimpun dari donasi para anggota asosiasi sebagai bentuk kepedulian pelaku usaha perjalanan terhadap keberlangsungan pariwisata Sade pascakebakaran.
Menurut Sahlan, sekenem tidak sekadar fasilitas fisik. Bangunan tradisional itu diharapkan kembali menjadi ruang wisatawan beristirahat dan berinteraksi dengan warga saat berkunjung ke kampung adat.
Kebakaran yang melanda Dusun Sade I pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, memberikan pukulan besar bagi sektor pariwisata Lombok. Laporan koordinator rekonstruksi mencatat dampaknya mencakup 75 kepala keluarga, delapan berugaq, enam sekenem, satu masjid, satu museum, dua toilet, dan 69 tempat usaha atau art shop.
Laporan lain yang menggambarkan kondisi awal pascakebakaran menyebut sebanyak 129 rumah di Kampung Adat Sade terbakar dan sekitar 320 warga terdampak. Musibah itu tidak hanya menghilangkan rumah dan fasilitas warga, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi yang selama ini bertumpu pada kunjungan wisatawan.
Bagi Sahlan, pemulihan Sade tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah-rumah yang terbakar. Aktivitas pariwisata perlu terus dijaga agar mata rantai ekonomi masyarakat tidak terputus.
ASTINDO NTB menyatakan tidak menghentikan kunjungan ke Sade meski kawasan tersebut masih dalam proses rekonstruksi. Kehadiran wisatawan dinilai penting untuk menunjukkan bahwa Sade masih hidup dan masyarakatnya tetap menjalankan aktivitas pariwisata.
"Kami tetap berkomitmen untuk terus membawa wisatawan ke Sade walaupun kondisinya belum sempurna. Justru history-nya bisa diceritakan, bagaimana Sade sebelum musibah, saat kebakaran dan bagaimana kondisinya sekarang," ujar Sahlan.
Ia menambahkan wisatawan yang datang dapat mengetahui kondisi terkini Sade dan ikut menjadi bagian dari cerita perjalanan pemulihannya.
"Kami ingin wisatawan tetap datang. Supaya mereka juga mengetahui kondisi Sade sekarang dan ikut menjadi bagian dari cerita perjalanan pemulihan Sade," katanya.
Pemulihan Kampung Adat Sade telah memasuki tahapan rekonstruksi. Pada 3 September 2026, proses itu diawali melalui tradisi Nyemulak yang ditandai pemasangan perdana tiang pancang rumah adat.
Pemerintah menyiapkan pembangunan kembali 75 rumah adat, disertai fasilitas pendukung seperti masjid, museum, toilet, dan art shop. Museum ditargetkan selesai sebelum gelaran MotoGP Mandalika 2026 sehingga dapat menjadi ruang kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Desain dan masterplan kawasan Sade masih dimatangkan dengan melibatkan sejumlah pihak, termasuk Universitas Mataram dan beberapa kementerian. Rekonstruksi Sade tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga aspek budaya, sosial, dan pariwisata.
Sahlan menyampaikan apresiasi kepada DPP ASTINDO serta seluruh anggota ASTINDO NTB yang ikut memberikan perhatian terhadap kondisi Kampung Adat Sade.
"Terima kasih kepada DPP ASTINDO dan seluruh anggota ASTINDO NTB yang ikut memberikan perhatian kepada Sade," ujarnya.