MATARAM — Rentang waktu dua tahun menuju PON 2028 dinilai bukanlah periode yang panjang untuk melakukan konsolidasi dan persiapan atlet. Karena itu, kepengurusan KONI NTB yang baru tidak boleh kehilangan momentum.
Asrullah menegaskan, program persiapan harus langsung berjalan begitu struktur kepengurusan terbentuk. Ketua terpilih wajib menyusun peta jalan yang terukur, mulai dari pembinaan atlet, pemusatan latihan, hingga target perolehan medali di ajang olahraga nasional tersebut.
“Begitu terpilih, harus langsung menyusun persiapan. Harus ada roadmap atau rundown selama dua tahun ke depan, termasuk target perolehan medali dan persiapan atlet,” harapnya, Senin (24/8).
Asrullah meminta pengalaman dari pelaksanaan Porprov XII NTB menjadi bahan evaluasi serius. Berbagai persoalan yang muncul saat pesta olahraga provinsi itu digelar jangan sampai terulang ketika NTB menjadi tuan rumah PON.
Ia menyoroti sejumlah aspek teknis yang perlu dibenahi. Mulai dari transportasi, independensi wasit dan juri, hingga pola koordinasi antara cabang olahraga dengan KONI.
“Kejadian-kejadian pada Porprov kemarin harus dijadikan pelajaran. Kesalahan terkait transportasi, independensi wasit atau juri, hingga koordinasi antara cabang olahraga dengan KONI, mudah-mudahan dapat diminimalisir saat PON nanti,” katanya.
Ia bahkan mendorong penerapan prinsip zero tolerance terhadap berbagai persoalan teknis yang berpotensi mengganggu jalannya pertandingan. Sebagai tuan rumah, NTB tidak boleh memberi ruang bagi kesalahan yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal.
Kesiapan PON tidak hanya menyangkut kemampuan atlet merebut medali. Sistem penyelenggaraan juga harus dipastikan berjalan profesional.
Untuk itu, dibutuhkan kepemimpinan KONI NTB yang mampu membangun koordinasi lintas daerah dan lintas pemangku kepentingan. Termasuk memastikan dukungan anggaran, komunikasi dengan pemerintah daerah di seluruh NTB, serta sinergi dengan masing-masing cabang olahraga.
Status tuan rumah memberikan keuntungan tersendiri bagi NTB. Peluang itu harus dimanfaatkan dengan mempersiapkan sebanyak mungkin atlet potensial yang dapat diturunkan pada berbagai nomor pertandingan.
Asrullah berharap Musorprov tidak sekadar menghasilkan ketua dan struktur kepengurusan baru. Lebih dari itu, forum tersebut harus menjadi titik awal konsolidasi olahraga NTB menuju PON 2028.
“Waktu dua tahun ini harus benar-benar dimanfaatkan. Jangan sampai baru bergerak ketika pelaksanaan sudah dekat,” tegasnya.