NUSA TENGGARA BARAT — Shuhei Yoshida, sosok yang lama memimpin Sony Interactive Entertainment, angkat bicara mengenai keputusan kontroversial menutup Japan Studio. Dalam pernyataannya, ia menjelaskan bahwa Sony saat itu mengambil kebijakan besar untuk lebih fokus pada pengembangan game AAA. Keputusan ini secara langsung mengubah peta industri game Jepang dan mempengaruhi nasib studio-studio di bawah naungan PlayStation.
Yoshida menegaskan bahwa penutupan Japan Studio bukanlah keputusan mendadak. Sony saat itu menilai bahwa sumber daya pengembangan sebaiknya dialokasikan untuk proyek-proyek besar yang bisa bersaing di pasar global. Game dengan skala AA dianggap tidak lagi sejalan dengan visi bisnis perusahaan yang ingin mendominasi industri.
Kebijakan ini berdampak langsung pada struktur internal Sony. Banyak developer berbakat yang selama ini menggarap game berukuran menengah harus kehilangan pekerjaan atau dipindahkan ke proyek lain. Japan Studio sendiri dikenal sebagai rumah bagi berbagai judul kreatif yang punya ciri khas kuat, namun sayangnya tidak masuk dalam kategori yang diinginkan manajemen baru.
Di tengah diskusi soal penutupan Japan Studio, Yoshida juga sempat menyinggung soal Bloodborne. Game action RPG besutan FromSoftware yang eksklusif di PlayStation ini hingga kini belum juga mendapatkan port, remaster, ataupun remake. Padahal, permintaan dari komunitas gamer untuk versi yang lebih baik sudah sangat tinggi sejak lama.
Yoshida mengaku bahwa alasan di balik tidak adanya versi baru Bloodborne masih menjadi misteri. Ia tidak memberikan jawaban pasti mengapa Sony enggan menghadirkan game tersebut ke platform yang lebih modern. Pernyataan ini justru memicu spekulasi baru di kalangan penggemar yang sudah bertahun-tahun menantikan kejutan dari Sony.
Selain membahas kebijakan internal Sony, Yoshida juga berbagi pengalaman saat memberi saran kepada developer game Expedition 33. Ia menyarankan tim pengembang tersebut untuk tidak menyebut game mereka sebagai "Turn Based RPG". Menurutnya, label tersebut bisa menjadi penghalang bagi game untuk menarik pemain baru yang mungkin belum familiar dengan genre itu.
Saran ini mencerminkan pemahaman Yoshida tentang perilaku pasar gamer modern. Banyak pemain, terutama generasi baru, cenderung menghindari game dengan label yang terdengar rumit atau klasik. Strategi pemasaran yang lebih cerdas dengan menonjolkan elemen gameplay lain dinilai lebih efektif untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Dalam kesempatan yang sama, Yoshida juga turut berkomentar mengenai perjalanan panjang seri Resident Evil yang telah mencapai usia 30 tahun. Waralaba horor survival dari Capcom ini menjadi salah satu franchise paling berpengaruh dalam sejarah industri game. Keberhasilannya bertahan selama tiga dekade menunjukkan bagaimana sebuah seri bisa terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman.
Pandangan Yoshida tentang berbagai isu industri ini memberikan perspektif langka dari seseorang yang berada di posisi pengambil keputusan selama bertahun-tahun. Baginya, perubahan arah bisnis Sony adalah konsekuensi logis dari persaingan global yang semakin ketat. Namun, ia juga mengakui bahwa ada harga yang harus dibayar, seperti hilangnya keberagaman kreatif yang selama ini menjadi ciri khas game buatan Jepang.
Komentar-komentar ini muncul di tengah transisi besar yang sedang dialami industri game, di mana biaya produksi game AAA semakin membengkak. Keputusan Sony untuk fokus pada game skala besar mungkin tepat secara bisnis, tapi meninggalkan pertanyaan besar tentang masa depan game-game kreatif berukuran menengah yang selama ini menjadi favorit banyak pemain.