NUSA TENGGARA BARAT — PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) merilis data kinerja ekspor semester pertama 2026 yang menunjukkan pertumbuhan solid di tengah dinamika geopolitik global. Berdasarkan catatan Gaikindo, ekspor otomotif nasional secara keseluruhan tumbuh 7,7 persen, sementara Toyota melesat di atas rata-rata industri.
Dari sisi model, Avanza dan Veloz masih menjadi tulang punggung ekspor Toyota dengan total 32.571 unit. Posisi berikutnya ditempati Raize sebanyak 26.082 unit dan Yaris Cross sebesar 20.441 unit. Ketiga model ini mendominasi pengiriman ke kawasan Asia yang menyerap 57,8 persen dari total ekspor.
Kawasan Amerika menjadi pasar terbesar kedua dengan kontribusi 29,5 persen, disusul Timur Tengah sebesar 12 persen. Toyota Indonesia telah mengekspor ke lebih dari 100 negara sejak memulai pengiriman pertama pada 1987, dengan akumulasi mencapai 3.296.874 unit hingga semester I 2026.
Segmen elektrifikasi menunjukkan pertumbuhan signifikan. Ekspor Kijang Innova Zenix Hybrid dan Yaris Cross Hybrid mencapai 12.693 unit pada Januari-Juni 2026, melonjak 46,4 persen dibanding semester I tahun lalu. Sejak mulai diekspor pada 2023, akumulasi pengiriman kedua model hybrid itu telah melampaui 62.906 unit.
Presiden TMMIN Nandi Julyanto mengatakan kinerja ini ditopang kolaborasi dengan lebih dari 760 pemasok lokal, termasuk industri kecil dan menengah (IKM). "Bersama-sama, seluruh elemen tersebut berperan dalam memperkuat daya saing industri otomotif nasional di tengah dinamika geopolitik global. Kami memastikan produk lokal mampu menjawab kebutuhan pasar global yang semakin kompetitif," ujar Nandi dalam keterangan tertulis, Senin (27/7).
Selain kendaraan utuh, TMMIN juga mengirim completely knocked down (CKD) parts, komponen mesin, hingga alat pencetak (die) ke luar negeri. Wakil Presiden Direktur TMMIN I Nyoman Winaya Adnyana menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan regulasi dan kebutuhan pasar global.
"Ke depan, kami akan terus memperluas penetrasi pasar, meningkatkan standar kualitas, serta memperkuat portofolio kendaraan berteknologi ramah lingkungan," kata Nyoman. Menurutnya, pengembangan kendaraan rendah emisi menjadi kunci keberlanjutan ekspor di tengah transisi energi global.