NUSA TENGGARA BARAT — Sepanjang 2024, selisih kinerja saham maskapai China dengan Cathay Pacific mencapai hampir 50 poin persentase. Kondisi ini mencerminkan tantangan struktural di daratan utama, kontras dengan pemulihan yang lebih solid di Hong Kong.
Analis menilai faktor utama yang membebani saham maskapai China adalah lemahnya permintaan perjalanan udara di dalam negeri. Pemulihan pasca-pandemi belum merata, dan konsumen cenderung menahan belanja untuk perjalanan rekreasi.
"Permintaan domestik tidak pulih sekuat yang diharapkan pasar," ujar seorang analis yang meliput sektor penerbangan di Asia. Tekanan ini diperparah kelebihan kapasitas dan persaingan harga ketat di rute domestik.
Perbedaan kinerja ini memberi sinyal penting tentang arah pemulihan masing-masing pasar. Maskapai China masih bergulat dengan permintaan domestik yang lesu, sementara Cathay Pacific menuai hasil dari rebound perjalanan global.
Ke depan, fokus pasar tertuju pada data permintaan domestik China dan langkah stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi. Jika permintaan tidak segera pulih, tekanan pada laba maskapai China diperkirakan berlanjut dalam jangka pendek. Investasi mengandung risiko.