NUSA TENGGARA BARAT — Teheran kini memposisikan penguasaan atas Selat Hormuz bukan sekadar isu militer, melainkan aset diplomatik utama. "Bagi Iran, pengakuan simbolis atas posisinya di Selat Hormuz jauh lebih penting daripada keuntungan finansial," ujar Analis Senior Middle East Institute Alex Vatanka dikutip dari Reuters, Senin (6/7/2026).
Para analis menilai momentum politik ini sengaja dipilih Teheran. Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dipadati jutaan pelayat digunakan untuk menunjukkan soliditas politik dan daya tahan negara tersebut.
Ini terjadi setelah serangan militer AS dan Israel yang berlangsung sejak 28 Februari lalu. Bagi pengamat, tontonan massa itu adalah pesan bahwa Iran merasa posisi tawarnya kini lebih kuat dalam setiap perundingan ke depan.
Selat Hormuz bukan sembarang jalur pelayaran. Data menunjukkan jalur air sempit di Teluk Persia ini menjadi lintasan bagi sekitar seperlima total pasokan minyak mentah dan LNG global. Konsekuensinya langsung: setiap eskalasi militer atau politik di titik ini akan memicu guncangan harga energi internasional secara instan.
Bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia, situasi ini patut diwaspadai. Kenaikan harga minyak mentah global akibat ketegangan di Hormuz akan membebani APBN lewat membengkaknya subsidi energi dan biaya impor.
Dari sisi pasar keuangan, ketidakpastian pasokan minyak biasanya mendorong aksi jual di bursa saham negara net importir. Sektor transportasi dan manufaktur menjadi yang paling rentan karena biaya bahan bakar melonjak. Sebaliknya, emiten energi dan batu bara kerap diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas dalam situasi seperti ini.
Investor perlu memantau perkembangan diplomasi AS-Iran ke depan, karena setiap isyarat diplomatik dari Teheran bisa langsung memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam hitungan jam.