NUSA TENGGARA BARAT — Kepala Disdikbud Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menegaskan tidak ada surat edaran dari dinas yang mengondisikan siswa untuk hadir dalam penyambutan Presiden di Jalan Raden Intan, Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026). "Tidak ada instruksi resmi maupun pengerahan siswa untuk menyambut Pak Presiden," ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (9/6/2026).
Viral di media sosial sebuah pesan berantai dari grup sekolah yang meminta wali murid mengantar anak-anak mereka ke halaman Bank BRI Pusat pukul 08.00 WIB. Dalam pesan tersebut, siswa diwajibkan mengenakan seragam batik dan membawa bendera Merah Putih. Seorang wali murid, Nila, membenarkan menerima informasi itu. "Katanya anak-anak disuruh diantar ke depan BRI Pusat untuk menyambut Presiden jam 08.00 pagi," katanya.
Thomas menjelaskan, informasi soal kunjungan Presiden memang sudah diketahui masyarakat luas, termasuk kalangan guru. Namun pihaknya tidak mengarahkan sekolah untuk memobilisasi siswa. "Kalau memang nanti ada antusiasme siswa dan masyarakat untuk bertemu serta menyambut Pak Presiden, tentu kami mempersilakan," kata Thomas. Ia menekankan bahwa kehadiran siswa harus bersifat sukarela, bukan karena perintah sekolah.
Meski mempersilakan, Thomas mengingatkan agar penyambutan dilakukan tertib dan tidak membahayakan anak-anak. "Tidak boleh berdesak-desakan, tidak boleh panas-panasan. Kehadiran presiden tentu dapat disambut dengan baik, tetapi tidak boleh mengoordinir atau mengondisikan siswa untuk penyambutan," tegasnya. Ia meminta agar tidak ada pengondisian dari pihak sekolah yang membuat siswa merasa terpaksa hadir.
Persoalan pengerahan siswa untuk menyambut pejabat negara bukan kali pertama terjadi. Di sejumlah daerah, praktik serupa kerap menuai kritik karena dianggap mengganggu jam belajar dan membebani orang tua. Dalam kasus ini, Disdik Lampung berusaha menjauhkan diri dari tuduhan mobilisasi dengan menekankan prinsip sukarela. "Intinya natural saja, alami saja. Yang ingin bertemu silakan, tetapi harus ditata dengan rapi dan tidak berdesak-desakan karena nanti bisa mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Kasihan juga anak-anaknya," pungkas Thomas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari pihak Istana Kepresidenan maupun sekolah yang disebut dalam surat edaran viral mengenai teknis pengamanan dan koordinasi penyambutan di lokasi.