NUSA TENGGARA BARAT — CAS, dalam putusan yang dirilis Selasa (15/4), menegaskan bahwa FMF tetap bertanggung jawab atas ulah suporternya meski sudah menjalankan program edukasi. “Mereka (para hakim) mengamati bahwa perilaku suporter bersifat kolektif dan meluas, bukan sekadar insiden satu kali,” demikian pernyataan CAS.
Nyanyian satu kata dalam bahasa Spanyol yang berarti "lelaki penghibur" atau "muncikari" ini biasanya diteriakkan saat kiper lawan hendak melakukan tendangan gawang. Aksi ini viral sejak Piala Dunia 2014 di Brasil dan terus terulang di edisi 2018 Rusia serta 2022 Qatar. Meski FMF gencar mengampanyekan penghapusan nyanyian tersebut sejak 2015, suporter Meksiko tetap membangkang.
Dalam sidang di Miami pada Maret 2025, CAS mempertimbangkan mitigasi FMF yang mengklaim telah menjalankan program edukasi dan pencegahan. Namun, panel hakim menilai upaya itu belum cukup untuk membebaskan federasi dari tanggung jawab. “Meskipun ada tantangan unik yang dihadapi pejabat sepak bola Meksiko, federasi tidak bisa lepas dari kewajiban,” tulis CAS.
CAS mengukuhkan denda total 140.000 franc Swiss atas insiden di pertandingan melawan Bolivia, Uruguay, Brasil, dan Amerika Serikat pada 2024. Namun, satu sanksi yang membatalkan penutupan sebagian stadion di ajang FIFA seperti Piala Dunia akhirnya dicabut. Keputusan ini menjadi kemenangan parsial bagi FMF di tengah kekalahan utama mereka.
Putusan ini keluar tepat saat Meksiko bersiap menjadi tuan rumah laga pembuka Piala Dunia 2026 melawan Afrika Selatan di Stadion Azteca, 11 Juni mendatang. Stadion berkapasitas 87.000 kursi itu terkenal sebagai lokasi paling sering terdengarnya nyanyian kontroversial tersebut.
Meksiko juga akan menjalani laga fase grup lainnya melawan Korea Selatan di Guadalajara dan Republik Ceko di Azteca. FIFA telah menempatkan pemantau anti-diskriminasi di seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 yang digelar di Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada.
Kasus banding FMF melawan FIFA ini sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Putusan terbaru CAS kembali menegaskan bahwa FIFA tidak akan mentolerir perilaku diskriminatif suporter di stadion, sekalipun federasi sudah berupaya melakukan pencegahan.