NUSA TENGGARA BARAT — Pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) terus memanas. Data dari Omdia menunjukkan pengiriman global perangkat ini melonjak menjadi 8,7 juta unit pada 2025, naik lebih dari 300 persen dari tahun sebelumnya. Angka tersebut diperkirakan akan menembus 15 juta unit pada 2026.
Di tengah gempuran pemain besar seperti Meta, Google, dan Apple, rantai pasok komponen justru menjadi arena pertempuran yang tak kalah sengit. Salah satu pemain kunci di segmen ini adalah LetinAR, startup Korea Selatan yang selama satu dekade terakhir fokus pada pengembangan modul optik untuk kacamata pintar.
LetinAR mengumumkan perolehan pendanaan sebesar 18,5 juta dolar AS dari Korea Development Bank dan Lotte Ventures, cabang ventura dari raksasa ritel Korea Selatan Lotte. Sebelumnya, LG Electronics yang juga menjadi investor awal LetinAR, dikabarkan telah mulai mengembangkan kacamata AI miliknya sendiri.
Pendanaan ini menjadi batu loncatan bagi rencana IPO perusahaan pada 2027 di bursa Korea Selatan. CEO Jaehyeok Kim dan CTO Jeonghun Ha, yang berteman sejak SMA, mendirikan LetinAR pada 2016.
Menurut Ha, tantangan terbesar dalam industri kacamata pintar bukanlah pada perangkat lunak atau desain bingkai, melainkan pada komponen optik. Modul ini harus tipis, ringan, hemat daya, namun tetap mampu menampilkan gambar yang tajam di bidang pandang pengguna.
"Kami melihat kacamata AI sebagai platform berikutnya. Dan modul optik adalah bagian tersulit untuk dibuat dengan benar," ujar Kim kepada TechCrunch.
LetinAR mengandalkan teknologi bernama PinTILT. Alih-alih menyebarkan cahaya ke seluruh permukaan lensa seperti teknologi waveguide yang dominan saat ini, PinTILT mengarahkan cahaya secara presisi hanya ke mata pengguna.
Ha menjelaskan, pendekatan waveguide bekerja seperti televisi yang memancarkan cahaya ke seluruh ruangan, namun hanya sebagian kecil yang sampai ke mata. Akibatnya, gambar menjadi redup dan baterai cepat habis. Sementara itu, metode birdbath yang menggunakan cermin memang lebih langsung, namun menghasilkan lensa yang terlalu tebal untuk dipakai sehari-hari.
PinTILT menjanjikan kompromi: gambar lebih terang dalam kemasan lensa yang lebih tipis. Teknologi ini memungkinkan kacamata pintar tetap tampak seperti kacamata biasa, bukan helm futuristik.
Salah satu skenario penggunaan paling ekstrem dari teknologi ini adalah navigasi untuk pengendara motor. Bayangkan sebuah panah melayang di atas jalan saat melaju 160 km/jam, tanpa perlu menunduk ke ponsel atau dasbor. Skenario ini disebut akan mulai diuji coba di jalanan Eropa pada tahun ini.
Dengan kata lain, LetinAR tidak hanya menjual komponen, tetapi juga memungkinkan pengalaman baru yang sebelumnya hanya ada di film fiksi ilmiah. Pertanyaannya, apakah pabrikan kacamata pintar global akan beralih ke PinTILT? Jawabannya mungkin akan terlihat dalam dua hingga tiga tahun ke depan, sejalan dengan jadwal IPO perusahaan.