LOMBOK TENGAH — Penurunan persentase kemiskinan Loteng juga diikuti perbaikan pada indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 1,15 pada Maret 2025 menjadi 1,05 pada Maret 2026, sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun dari 0,31 menjadi 0,18 pada periode yang sama.
Plt Kepala Bapperida Loteng Taufikurrahman Pua Note menyebut perkembangan angka kemiskinan sebagai salah satu indikator penting untuk melihat hasil pembangunan dan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Penurunan P1 dan P2 menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan. Kesenjangan pengeluaran di antara penduduk miskin juga semakin menyempit.
"Kita tidak hanya melihat kemiskinan dari sisi jumlah dan persentase penduduk miskin, tetapi juga dari kedalaman dan keparahannya. Hasilnya menunjukkan adanya perbaikan pada kedua indikator tersebut," terang Arman, sapaan akrab Taufikurrahman, kepada wartawan, Senin (26/10).
Meski persentase kemiskinan turun, garis kemiskinan Loteng pada Maret 2026 tercatat Rp 618.843 per kapita per bulan. Angka itu meningkat 8,78 persen dibandingkan Maret 2025 yang sebesar Rp 568.910.
Komoditas makanan masih memberikan kontribusi dominan, yakni sekitar 75,85 persen terhadap garis kemiskinan. Kondisi itu menunjukkan pentingnya menjaga daya beli masyarakat, memperkuat perlindungan sosial, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata.
Pemkab Loteng terus mendorong penguatan sinergi lintas sektor dalam pelaksanaan program pengentasan kemiskinan. Arman menegaskan capaian penurunan kemiskinan perlu terus diperkuat melalui program pembangunan yang terarah dan berkelanjutan.
"Capaian ini menjadi salah satu indikator upaya pengentasan kemiskinan perlu terus diperkuat melalui program pembangunan yang terarah dan berkelanjutan," kata Arman.