Penjualan Motor Listrik 2026 Baru 18.900 Unit, Subsidi Belum Jelas Jadi Penyebab

Penulis: Jefri Siahaan  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 18:02:01 WIB
Penjualan sepeda motor listrik hingga Agustus 2026 tercatat 18.900 unit.

NUSA TENGGARA BARAT — Penjualan sepeda motor listrik di Indonesia sepanjang 2026 baru mencapai 18.900 unit hingga Agustus, anjlok dibanding sekitar 70.000 unit pada 2025. Ketidakpastian program subsidi dari pemerintah membuat calon konsumen menunda pembelian. Aismoli menilai pola kebijakan yang berubah-ubah menjadi hambatan utama pertumbuhan pasar.

Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) mencatat realisasi penjualan sepeda motor listrik hingga Agustus 2026 baru sekitar 18.900 unit. Capaian tersebut jauh di bawah dua tahun sebelumnya, ketika pasar sempat menembus puluhan ribu unit berkat dukungan insentif pemerintah.

Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi menyebut ketidakpastian program insentif pembelian sebagai salah satu penyebab utama. Calon konsumen memilih menunggu kepastian kapan subsidi kembali diberikan sebelum memutuskan membeli.

Lonjakan 2024 yang Tak Berlanjut

Pada 2023, penjualan motor listrik masih berada di kisaran 15.000 unit. Angka itu melonjak menjadi sekitar 77.000 unit pada 2024 setelah pemerintah menggulirkan bantuan pembelian hingga Rp7 juta per unit.

Ketika subsidi tidak lagi berjalan seperti sebelumnya, penjualan 2025 masih bertahan di angka sekitar 70.000 unit. Pasar dinilai sudah mulai membentuk basis konsumen. Momentum itu tidak berlanjut pada 2026.

Insentif Rp3 Juta Belum Ada Kejelasan Realisasi

Kementerian Keuangan pada Agustus 2026 menyatakan telah menyiapkan anggaran sekitar Rp3 triliun untuk program insentif pembelian sepeda motor listrik produksi dalam negeri. Targetnya mencapai 1 juta unit kendaraan.

Dalam skema yang disiapkan, nilai insentif diperkirakan sekitar Rp3 juta per unit. Angka itu lebih rendah dibandingkan bantuan pembelian yang pernah mencapai Rp7 juta per unit pada 2024. Budi Setiyadi menyebut hingga September 2026 belum ada kejelasan mengenai realisasi program tersebut.

Dealer Kesulitan Memprediksi Permintaan

Dampak penundaan pembelian tidak berhenti di tingkat produsen. Dealer menjadi pihak yang langsung merasakan efeknya. Calon konsumen yang sudah berencana membeli motor listrik memilih menunggu hingga pemerintah memberikan kepastian subsidi.

Menurut Aismoli, pola kebijakan yang terkadang tersedia dan kemudian tidak tersedia mengganggu perkembangan industri. Selisih harga beberapa juta rupiah cukup signifikan bagi konsumen, sehingga mereka cenderung menunda pembelian. Dealer pun sulit memprediksi permintaan dan mengatur strategi penjualan.

Charging Station dan Bengkel Masih Jadi Kendala

Persoalan pasar motor listrik tidak hanya berkaitan dengan subsidi. Aismoli menyoroti ketersediaan infrastruktur pengisian daya atau charging station yang belum merata.

Ekosistem layanan purnajual juga menjadi pertimbangan konsumen. Ketersediaan bengkel yang menangani motor listrik belum sebanyak bengkel motor konvensional. Masyarakat ingin memastikan kendaraan yang dibeli dapat ditangani dengan mudah ketika mengalami masalah.

Pembiayaan Selektif dan Populasi 280 Ribu Unit

Akses pembiayaan menjadi tantangan tersendiri. Lembaga pembiayaan masih cenderung selektif terhadap kendaraan listrik, padahal sebagian besar konsumen sepeda motor di Indonesia membeli dengan skema kredit. Ketika persyaratan pembiayaan berbeda dibandingkan motor konvensional, pertumbuhan pasar ikut terdampak.

Meski penjualan 2026 mengalami tekanan, populasi sepeda motor listrik di Indonesia sudah mencapai sekitar 280 ribu unit. Basis pengguna yang terbentuk dari lonjakan 2024 dan 2025 menjadi modal bagi industri jika kepastian kebijakan segera terwujud.

Reporter: Jefri Siahaan
Sumber: otoinfo.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top