Museum NTB Pamerkan 10 Koleksi Bertema Sekardiyu di Sirkuit Mandalika saat MotoGP 2026

Penulis: Luthfi Hakim  •  Selasa, 22 September 2026 | 08:01:01 WIB
Museum NTB menyiapkan pameran budaya bertajuk Speed, Energy, and Connection di kawasan Sirkuit Mandalika.

MATARAM — Museum Negeri Nusa Tenggara Barat mulai mematangkan persiapan pameran budaya yang akan digelar bersamaan dengan ajang MotoGP Mandalika 2026. Tim museum telah menyusun materi pameran dan mengukur tata letak ruang di kawasan Sirkuit Mandalika sebagai lokasi penampilan koleksi.

Pameran bertajuk Speed, Energy, and Connection ini akan menampilkan 10 koleksi pilihan. Wayang Sekardiyu dipilih sebagai objek utama karena dinilai memiliki keterkaitan dengan gagasan besar yang ingin dibangun melalui pameran.

Sepuluh Koleksi yang Akan Ditampilkan

Koleksi yang disiapkan mencakup Wayang Jayengrana, Wayang Sekardiyu, Naskah Lontar Jayengrana, Kain Songket Lombok bermotif kuda, serta Kain Kemalik bermotif Jayengrana dan Munigarim. Turut dipamerkan Lukisan Nyongkolan, foto arakan Jaran Kamput, dua pasang Jaran Kamput, dan Cale atau Kacip Pinang bermotif kuda.

Pamong Budaya Madya Museum NTB, Gusti Ayu, menjelaskan bahwa koleksi-koleksi tersebut akan disusun dalam tiga subtema yang merujuk pada judul pameran. Ketiga tema itu membangun cerita mengenai Sekardiyu sebagai karya budaya yang berkaitan dengan gerak, kekuatan, kepahlawanan, serta hubungan manusia dengan tradisi.

"Jadi setiap tema memiliki koleksi yang akan ditampilkan. Misalnya, pada tema speed kami akan menyajikan Naskah Kuno Jayengrana dan koleksi Sekardiyu putih," ujarnya.

Mengapa Sekardiyu Dipilih sebagai Objek Utama

Dalam konsep pameran, tema speed diangkat untuk menggambarkan gerak, perjalanan, dan dinamika. Energy merepresentasikan kekuatan, semangat, dan daya hidup. Sementara connection memperlihatkan hubungan Sekardiyu dengan manusia dan lingkungannya.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menyebut tema Speed, Energy, and Connection sengaja dibangun untuk mempertemukan dua konteks berbeda dalam satu ruang pamer. MotoGP hadir dengan kecepatan, energi, dan dinamika teknologi di lintasan, sedangkan Sekardiyu membawa cerita tentang gerak, kekuatan, perjalanan, dan hubungan manusia dengan tradisi.

"Ketika kita berbicara tentang Speed, Energy, and Connection, MotoGP hadir dengan kecepatan dan energi di lintasan, sementara Sekardiyu membawa gagasan tentang gerak, kekuatan, dan hubungan manusia dengan tradisi," ujarnya.

Tata Ruang Lebih Fokus karena Tidak Berbagi dengan Peserta Lain

Persiapan pameran tahun ini memiliki perbedaan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Lokasi pameran masih menggunakan tempat yang sama, tetapi Museum NTB tidak lagi berbagi ruang dengan peserta lain.

Kasi Layanan dan Edukasi Museum NTB, Raden Heru, menuturkan bahwa tata ruang menjadi bagian penting karena koleksi tidak hanya ditempatkan sebagai benda yang dilihat pengunjung. Setiap benda harus saling terhubung untuk membentuk sebuah cerita.

"Kami ingin setiap benda memiliki hubungan dengan benda lainnya sehingga pengunjung bisa mengikuti cerita yang dibangun dalam pameran," katanya.

Ketua Pameran, Gunarti, menambahkan bahwa kondisi tanpa peserta lain memberi keleluasaan bagi tim untuk menata ruang sesuai tema yang telah dirancang.

"Untuk tempat masih seperti tahun lalu. Namun, tahun ini tidak ada peserta lain seperti tahun sebelumnya sehingga penataan ruang bisa lebih fokus pada tema pameran," ujarnya.

Jadwal Penataan Ruang dan Materi Pendukung

Memasuki tahap persiapan teknis, tim mulai melakukan pengukuran ruang sekaligus menyiapkan berbagai materi pendukung, termasuk brosur atau leaflet. Penataan ruang pamer dijadwalkan dimulai pada 8 Oktober.

Menurut Nuralam, pertemuan antara dunia balap dan tradisi lokal menjadi bagian dari upaya Museum NTB mengajak pengunjung MotoGP melihat bagaimana masyarakat NTB menerjemahkan gerak, kekuatan, energi, dan keterhubungan dalam kehidupan budaya.

Reporter: Luthfi Hakim
Sumber: globalfmlombok.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top